Artikel Terbaru
Kisah Umar bin Khattab : Kepemimpinan dan Kebijaksanaan yang Mengagumkan
Dalam sejarah Islam, ada banyak sosok yang menjadi inspirasi tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya hadir bagi rakyatnya. Salah satunya adalah Umar bin Khattab RA, khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Umar memiliki peran penting dalam memperluas wilayah Islam dan membangun sistem pemerintahan yang adil. Umar bukan hanya pemimpin yang kuat, tetapi juga pribadi yang penuh kebijaksanaan. Keberanian, ketegasan, dan kepeduliannya membuat ia dikenang sebagai teladan kepemimpinan hingga hari ini.
Dari Penentang Menjadi Pembela Islam
Kisah hidup Umar bin Khattab memberi pelajaran besar tentang perubahan hati manusia. Ia lahir di Mekah pada tahun 584 M, tumbuh sebagai pribadi yang keras dan disegani. Bahkan sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai salah satu penentang paling gigih ajaran Nabi Muhammad SAW hingga pernah berniat membunuh Rasulullah demi mempertahankan keyakinan leluhurnya.
Namun, takdir Allah begitu indah. Saat mendengar lantunan ayat Al-Qur’an di rumah Fatimah yang merupakan saudarinya, hatinya luluh. Umar yang awalnya berniat memusuhi Islam, justru memeluknya dengan sepenuh hati. Sejak saat itu, keberanian dan kekuatannya berpindah arah—dari menentang menjadi membela kebenaran. Nabi Muhammad SAW bahkan memberinya julukan Al-Faruq, yang berarti “pembeda antara yang benar dan yang salah”.
Pemimpin yang Mengutamakan Keadilan
Sebagai khalifah, Umar bin Khattab tidak hanya memperluas wilayah Islam hingga Persia, Mesir, Suriah, dan Palestina. Lebih dari itu, ia membangun sistem pemerintahan yang berkeadilan. Ia mendirikan Baitul Mal untuk memastikan harta negara digunakan bagi rakyat, membagi wilayah menjadi provinsi dengan pemimpin yang dipilih karena kemampuan, bukan karena kedekatan.
Salah satu hal yang paling dikenang adalah kebiasaannya berjalan di malam hari untuk memastikan rakyatnya tidak ada yang kelaparan. Umar tidak ingin hanya menerima laporan, ia ingin melihat langsung. Pernah suatu malam, ia mendapati seorang ibu yang menenangkan anaknya dengan panci kosong hanya agar sang anak bisa tertidur. Umar pun segera kembali membawa gandum di punggungnya sendiri, menyalakan api, dan memasak untuk keluarga itu. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan bukan soal kekuasaan, melainkan soal pelayanan.
Beberapa pencapaian penting Umar Bin Khattab saat menjadi Khalifah :
1. Membagi Kekhalifahan menjadi Provinsi
Umar membagi kekhalifahan menjadi beberapa provinsi dan menunjuk gubernur yang cakap untuk mengelolanya. Ia memastikan bahwa para pemimpin ini dipilih berdasarkan kemampuan dan integritas mereka, bukan karena hubungan keluarga atau kekayaan.
2. Mendirikan Baitul Mal
Umar mendirikan Baitul Mal, atau perbendaharaan negara, yang mengelola keuangan negara. Melalui institusi ini, ia memastikan bahwa kekayaan negara digunakan untuk kepentingan rakyat, terutama yang miskin dan membutuhkan.
3. Menegakkan Keadilan Secara Adil
Ia tidak pernah ragu untuk menegakkan hukum secara adil. Bahkan jika keputusannya mendapat kritik, ia dengan rendah hati menerima masukan dan melakukan koreksi jika diperlukan.
Kebijaksanaan dalam Menghadapi Krisis
Ketika Madinah dilanda kekeringan panjang, Umar tidak hanya berdoa memohon hujan, tetapi juga bergerak cepat. Ia mengirim bantuan dari berbagai provinsi, memastikan rakyatnya tidak dibiarkan menderita. Sikap ini menunjukkan kebijaksanaannya: doa harus disertai ikhtiar nyata.
Selain itu, Umar memperkenalkan kalender Hijriyah dengan menjadikan peristiwa hijrah Nabi sebagai titik awal. Keputusan sederhana ini ternyata menjadi warisan besar yang masih kita gunakan hingga kini.
Teladan Bagi Pemimpin Sepanjang Masa
Kisah sahabat Umar bin Khattab bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin kepemimpinan sejati: berani tapi lembut, tegas tapi penuh kasih, kuat tapi tetap rendah hati. Umar mengajarkan bahwa pemimpin sejati bukanlah yang hanya berpidato di depan rakyatnya, melainkan yang hadir, peduli, dan siap memikul beban rakyat dengan tangannya sendiri.
Dalam kehidupan modern, teladan Umar bin Khattab tetap relevan. Para pemimpin, baik dalam keluarga, organisasi, maupun negara, bisa belajar darinya bahwa kebijaksanaan dan keadilan adalah fondasi yang membuat kepemimpinan dihormati dan dicintai.
ARTIKEL17/09/2025 | HUMAS BAZNAS JABAR
Nama Paman Nabi Muhammad : Abu Thalib dan Perannya dalam Dakwah
Kalau kita ngomongin sejarah awal dakwah Nabi Muhammad SAW, nama Abu Thalib nggak bisa dilewatkan. Beliau adalah paman Nabi yang punya peran besar banget dalam menjaga, melindungi, dan mendukung perjuangan Rasulullah—meski dirinya sendiri tidak pernah secara resmi memeluk Islam.
Buat Nabi Muhammad, Abu Thalib bukan cuma paman, tapi juga figur ayah kedua. Setelah kakeknya, Abdul Muthalib, wafat, Abu Thaliblah yang merawat Nabi sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Bayangin aja, beliau memperlakukan Nabi seolah anak kandung sendiri—selalu ada, selalu siap jadi pelindung.
Abu Thalib, Tameng Dakwah Nabi
Ketika Nabi mulai berdakwah menyampaikan Islam, situasi waktu itu super sulit. Quraisy yang masih teguh pada tradisi paganisme merasa terusik dan mulai melawan. Tapi Abu Thalib, sebagai kepala Bani Hasyim, berdiri tegak di belakang keponakannya.
Bahkan, para pemimpin Quraisy sempat datang ke Abu Thalib bawa tawaran “menggiurkan”: kekayaan, jabatan, bahkan kekuasaan—asal Nabi berhenti berdakwah. Tapi Abu Thalib menolak mentah-mentah. Baginya, melindungi Nabi jauh lebih berharga daripada semua yang ditawarkan.
Salah satu momen paling berat adalah ketika Quraisy memboikot keluarga besar Nabi selama tiga tahun. Hidup dalam tekanan, susah makan, serba kekurangan. Tapi Abu Thalib tetap setia mendampingi Nabi, nggak pernah sekalipun meninggalkannya sendirian menghadapi badai.
Pengorbanan Abu Thalib Hingga Akhir Hayat
Abu Thalib terus menjaga Nabi sampai akhir hidupnya. Meski begitu, ia tetap bertahan pada keyakinan lamanya dan tidak memeluk Islam. Buat Nabi, ini tentu berat banget. Beliau sangat berharap pamannya bisa menerima Islam, tapi Allah menakdirkan lain.
Wafatnya Abu Thalib pada tahun ke-10 kenabian jadi pukulan telak bagi Nabi Muhammad. Tahun itu bahkan disebut sebagai ‘Aam al-Huzn atau Tahun Kesedihan, karena di tahun yang sama, Nabi juga kehilangan istri tercinta, Khadijah. Hilangnya Abu Thalib membuat posisi Nabi semakin rentan di tengah tekanan Quraisy.
Warisan Abu Thalib untuk Sejarah Islam
Meski nggak masuk Islam, jasa Abu Thalib dalam mendukung dakwah Nabi tetap tercatat besar dalam sejarah. Bisa jadi, tanpa perlindungan dan pengaruhnya, dakwah Islam di Mekah nggak akan bisa bertahan sekuat itu.
Dari kisah Abu Thalib, kita bisa belajar bahwa dukungan terhadap kebenaran nggak selalu harus datang dari keyakinan yang sama. Kadang, kasih sayang, loyalitas, dan ikatan keluarga bisa jadi tameng terkuat dalam perjuangan.
Abu Thalib mengajarkan bahwa pemimpin atau pelindung sejati adalah mereka yang berani berdiri di sisi kebenaran, meski harus menghadapi risiko besar.
ARTIKEL17/09/2025 | HUMAS BAZNAS JABAR
Doa Nabi Muhammad : Kumpulan Doa-Doa Mustajab yang bisa Diamalkan
Doa adalah salah satu bentuk ibadah yang paling mendasar dalam Islam, dan Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada umatnya berbagai macam doa yang memiliki keutamaan besar. Doa menjadi cara efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta untuk memohon kebaikan, perlindungan, dan ampunan. Berikut adalah beberapa doa mustajab yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Doa Nabi Muhammad untuk Memohon Kebaikan Dunia dan Akhirat
Salah satu doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah doa yang mencakup permohonan kebaikan di dunia dan akhirat. Doa ini melambangkan keseimbangan hidup yang diajarkan dalam Islam, yakni tidak hanya mengejar kebahagiaan dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati.
"Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qina 'adzaabannaar."
Artinya: "Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).
Doa ini sangat dianjurkan untuk dibaca setiap selesai shalat, sebagai bentuk permohonan kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Doa Nabi Muhammad Ketika Menghadapi Kesulitan
Dalam kehidupan, setiap manusia pasti akan menghadapi kesulitan dan tantangan. Untuk menghadapi situasi sulit tersebut, Nabi Muhammad SAW mengajarkan sebuah doa yang bertujuan untuk memohon kekuatan dan perlindungan dari Allah SWT. Doa ini membantu seseorang mendapatkan ketenangan dan kestabilan hati saat didera kesulitan.
"Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazan, wal 'ajzi wal kasal, wal jubni wal bukhli, wa ghalabatid-dayn wa qahrir rijaal."
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tekanan ketakutan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan keserakahan, serta utang dan penindasan manusia." (HR. Abu Dawud).
Membaca doa ini dapat menenangkan jiwa dan memberikan kekuatan batin dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Doa Nabi Muhammad untuk Kesembuhan dari Penyakit
Ketika sakit, selain melakukan usaha medis, Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk memohon kesembuhan kepada Allah SWT melalui doa. Salah satu doa yang sering dibaca untuk kesembuhan adalah:
"Allahumma rabban nas, adzhibil ba'sa, isyfi anta asy-syafi, laa syifa'a illa syifa'uka, syifa'an laa yughadiru saqaman."
Artinya: "Ya Allah, Tuhan seluruh umat manusia, tolong hilangkan penyakit ini. Sembuhkanlah, karena kamu adalah penyembuh yang hebat. Tidak ada kesembuhan tanpamu, tidak ada kesembuhan tanpa meninggalkanmu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Doa ini sangat baik dibaca ketika kita atau orang terdekat sedang sakit, sebagai bentuk ikhtiar spiritual memohon kesembuhan dari Allah.
Doa Nabi Muhammad Ketika Menghadapi Bahaya
Selain menghadapi kesulitan, Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan dari segala bentuk bahaya. Doa ini memberikan perlindungan dari hal-hal buruk yang mungkin terjadi, baik di bumi maupun di langit:
"Bismillahilladzi la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fissamaa’i wa huwas sami’ul ‘alim."
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah yang bersama dengan nama-Nya, tidak ada sesuatu pun yang dapat merugikan kita di bumi dan di surga, Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Doa ini bisa dibaca pada pagi dan sore hari sebagai bentuk perlindungan diri dari mara bahaya.
Doa Nabi Muhammad untuk Memohon Ampunan
Rasulullah SAW selalu menekankan pentingnya istighfar atau memohon ampunan kepada Allah SWT. Salah satu doa istighfar yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad adalah Sayyidul Istighfar. Doa ini memiliki kedudukan yang istimewa karena diyakini sebagai bentuk permohonan ampunan yang paling sempurna:
"Allahumma anta rabbi, la ilaha illa anta, khalaqtani wa ana 'abduka, wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu, a'udzu bika min sharri ma sana'tu, abu’u laka bini’matika 'alayya, wa abu’u bi dhanbi faghfirli, fa innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta."
Artinya: "Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada tuhan selain Engkau, Engkau telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kulakukan. Ampunilah aku, sesungguhnya hanya Engkau yang bisa mengampuni dosa-dosa." (HR. Bukhari).
Membaca doa ini setiap hari sangat dianjurkan sebagai bentuk pengakuan atas dosa dan memohon ampunan dari Allah SWT.
ARTIKEL17/09/2025 | HUMAS BAZNAS JABAR
Amal jariyah artinya dan contoh amalan yang tidak terputus
Amal jariyah berasal dari kata ‘amal yang artinya perbuatan, dan jariyah yang berarti mengalir. Jadi, amal jariyah adalah perbuatan baik yang pahalanya terus mengalir meski pelakunya telah meninggal dunia. Dalam Islam, amal jariyah termasuk dalam jenis amal yang tidak akan terputus meskipun usia seseorang sudah berhenti di dunia.
Rasulullah bersabda: "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa ada amalan tertentu yang pahalanya akan terus mengalir meski sudah meninggal dunia, selama amalan tersebut masih bermanfaat bagi orang lain.
Perbedaan Amal Jariyah dengan Amal Biasa dan contohnya
Tidak semua amalan yang dilakukan seseorang bisa disebut sebagai amal jariyah. Seperti yang sudah dibahas, Amal jariyah artinya adalah amalan yang manfaatnya masih terus dirasakan oleh orang lain. Sebagai contoh:
Sholat dan puasa adalah ibadah yang berpahala, tetapi pahalanya berhenti saat seseorang meninggal sementara Membangun masjid atau sumur adalah amal jariyah karena selama maasjid dan sumur tersebut masih digunakan, pahalanya tetap mengalir.
Mengapa Amal Jariyah Sangat Dianjurkan?
Islam mengajarkan umatnya untuk selalu melakukan kebaikan yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang. Amal jariyah artinya adalah investasi akhirat yang tidak pernah merugi, karena seseorang tetap mendapatkan pahala meskipun sudah tidak bisa beramal lagi di dunia.
Banyak orang yang berlomba-lomba mengumpulkan harta di dunia, tetapi lupa menyiapkan bekal untuk akhirat. Amal jariyah artinya adalah cara terbaik untuk berinvestasi di akhirat. Dengan melakukan amal jariyah, seseorang bisa terus mendapatkan pahala meskipun ia telah wafat.
Contoh Amalan yang Tidak Terputus
A. Sedekah Jariyah
Sedekah jariyah adalah salah satu bentuk utama dari amal jariyah artinya sedekah yang terus memberikan manfaat bagi orang lain dalam jangka panjang. Beberapa contoh sedekah jariyah antara lain:
Membangun masjid
Membantu pembangunan pesantren
Menyediakan Al-Qur’an di masjid atau sekolah
Membangun sumur untuk masyarakat yang membutuhkan
Selama sedekah tersebut masih bermanfaat bagi orang lain, pahalanya akan terus mengalir kepada pemberinya.
B. Ilmu yang Bermanfaat
Ilmu yang diajarkan kepada orang lain dan terus digunakan juga termasuk dalam kategori amal jariyah artinya. Beberapa contoh ilmu yang bermanfaat antara lain:
Mengajarkan ilmu agama kepada murid
Menulis buku yang bermanfaat
Membuat konten dakwah atau edukasi di media sosial
Mengajarkan keterampilan yang bisa membantu kehidupan orang lain
Jika ilmu tersebut digunakan dan diajarkan kembali kepada orang lain, maka pahalanya akan terus mengalir.
C. Anak Saleh yang Mendoakan Orang Tuanya
Mendidik anak agar dia menjadi pribadi yang baik serta taat Kepada Allah adalah investasi amal jariyah. Seperti yang disebutkan dalam hadist sebelumnya, salah satu amal jariyah artinya adalah memiliki anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya. Jika sesorang anak di didik dengan baik, Insya Allah dia akan selalu berdoa untuk orang tuanya, membaca Al-Qur’an, dan melakukan amal kebaikan lainnya yang dicontohkan orang tuanya sehingga hal tersebut akan menjadi sumber pahala yang tidak terputus bagi kedua orang tuanya.
D. Membangun Fasilitas Umum
Membangun fasilitas yang bisa dimanfaatkan banyak orang juga termasuk dalam amal jariyah artinya amalan yang pahalanya terus mengalir. Beberapa contoh fasilitas umum yang bisa menjadi amal jariyah antara lain:
Membangun sekolah atau perpustakaan
Membangun rumah sakit atau klinik gratis
Menyediakan jalan atau jembatan untuk masyarakat
Selama fasilitas tersebut masih digunakan, pahalanya akan terus mengalir kepada orang yang berkontribusi dalam pembangunannya.
E. Wakaf untuk Kepentingan Umat
Wakaf adalah salah satu bentuk sedekah jariyah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Amal jariyah artinya salah satunya adalah dengan memberikan wakaf berupa tanah, bangunan, atau aset lainnya yang bisa digunakan untuk kepentingan umat.
Misalnya, seseorang mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid, sekolah, atau rumah sakit. Selama tanah tersebut digunakan untuk kebaikan, maka pahalanya akan terus mengalir kepada pemberi wakaf.
Dengan memahami amal jariyah artinya, kita bisa lebih termotivasi untuk melakukan kebaikan yang manfaatnya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga menjadi bekal pahala yang terus mengalir di akhirat. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa berlomba-lomba dalam melakukan amal jariyah.
ARTIKEL17/09/2025 | HUMAS BAZNAS JABAR
menelan ludah dan batasan puasa : prespektif islam yang jelas
Pernahkah sahabat membuang ludah saat berpuasa karena khawatir hal tersebut dapat membatalkan puasa? Ibadah puasa dapat batal jika seseorang dengan sengaja memasukan makanan dan minuman ke dalam tubuhnya. Lalu bagaimana dengan air ludah?
Menurut buku “Hukum Menelan Air Ludah bagi Orang yang Berpuasa”, karya Pengajar Pondok Pesantren Raudhatul Quran An-Nasimiyyah Semarang Ahmad Mundzir menyatakan bahwa para ulama sepakat untuk hukum menelan air ludah atau liur tidak membatalkan puasa.
Namun, hal ini hanya berlaku apabila air liur ini sering keluar karena sulit dihindari, dijelaskan dalam al-Majmu Syarah al-Muhadzdzab (Juz 6, halaman 341) karya Imam an-Nawawi. Dikatakan bahwa:
“Menelan air liur itu tidak membatalkan puasa sesuai kesepakatan para ulama. Hal ini berlaku jika orang yang berpuasa tersebut memang biasa mengeluarkan air liur. Sebab susahnya memproteksi air liur untuk masuk kembali.”
Hukum Menelan Air Ludah bagi orang yang Berpuasa
Seperti yang sudah dipaparkan diatas kebanyakan ulama sepakat air ludah atau air liur tidak membatalkan puasa, Berdasarkan paparan dari Imam an-Nawawi, mengenai hukum menelan air liur yang tidak membatalkan puasa jika memenuhi tiga syarat, yaitu:
Air liur yang tidak tercampur dengan zat lain: Artinya air liur yang tertelan adalah air liur yang tidak tercampur dengan zat atau cairan lain, seperti darah akibat luka pada gusi.
Air liur yang belum keluar dari bagian bibir luar: Dalam hal ini, air liur yang tertelan tidak boleh melewati batas bibir luas. Menelan ludah yang berada dalam rongga mulut tanpa keluar dari batas bibir luar tetap dianggap sah dan tidak membatalkan puasa.
Air liur yang dengan sengaja ditampung oleh seseorang hingga banyak terlebih dahulu baru kemudian ditelan. Namun, ada pendapat yang termasyur mengatakan bahwa perbuatan tersebut selagi tidak sengaja, maka tidak akan membatalkan puasanya.
Jadi menelan air ludah tidak akan membatalkan puasa seseorang, jika telah memenuhi ketiga syarat di atas dan selama perbuatan menelan ludah tersebut tidak disengaja
Ibadah puasa juga bisa mendapatkan ganajran yang lebih besar dengan diiringi bersedekah. Beersedekah di BAZNAS Jabar dapat dilakukan secara online melalui smartphone sehingga mempermudah sahabat untuk bersedekah dimanapun dan kapanpun
Sebagai Lembaga Pemerintah Nonstruktural yang mengelola dana ZIS, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Jawa Barat saat ini dipercaya publik berkat komitmen dan program-programnya dalam menghimpun dan menyalurkan Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS).
buka link baznasjabar.org/infak untuk bersedekah dengaan mudah. Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan, bisa menjadi amal jariyah yang senantiasa mengalir pahalanya, Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.
ARTIKEL10/09/2025 | HUMAS BAZNAS JABAR
Mengenal 12 rakaat shalat sunnah rawatib : kunci kebahagiaan spiritual
Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat fardhu (wajib). Ibadah ini menjadi bentuk penyempurna dari shalat lima waktu yang seringkali tidak dikerjakan dengan kekhusyukan penuh. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya shalat ini, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits
“Barang siapa yang shalat 12 rakaat dalam sehari semalam selain yang wajib, maka akan dibangunkan untuknya rumah di surga.” (HR Muslim)
Mengenal 12 Rakaat Shalat Sunnah Rawatib
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat setelah dzuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya, dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR Tirmidzi)
Adapun hukum shalat sunnah rawatib beserta jumlah rakaatnya, sebagai berikut:
12 Rakaat Shalat Sunnah Rawatib Muakkad
Hukum shalat sunnah rawatib muakkad adalah sunnah yang dianjurkan, hanya saja tingkatannya sedikit di bawah fardhu (wajib). Berikut shalat rawatib muakkad, yaitu:
2 rakaat sebelum shalat subuh
2 rakaat sebelum shalat dzuhur
2 rakaat sesudah shalat dzuhur
2 rakaat sesudah shalat maghrib
2 rakaat sesudah shalat isya
12 Rakaat Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakkad
Hukum shalat ini adalah ghairu muakkad artinya pelaksanaannya sunnah yang tidak begitu dikuatkan. Berikut beberapa shalat sunnah rawatib ghairu muakkad, yaitu:
2 rakaat sesudah shalat dzuhur
4 rakaat sebelum shalat ashar
2 rakaat sebelum shalat maghrib
2 rakaat sebelum shalat isya
Demikian penjelasan mengenai 12 rakaat shalat sunnah rawatib yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam tiap shalat fardhu. Semoga kita senantiasa selalu diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah kepada-Nya.
ARTIKEL23/07/2025 | Humas BAZNAS Jabar

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
Info Rekening Zakat
