Artikel Terbaru
OPZ dan Ilusi Lini Masa
Ada ironi yang teramat pedih dalam panggung siasat modern: "ketika argumen keberhasilan tak sanggup menjadi fakta, orang-orang bergegas merias ilusi menjadi bahan berita".
Kita pernah menyaksikannya di Portugal pada Januari 2021. André Ventura melontarkan cemoohan pada Marisa Matias hanya karena seulas lipstik merah menyala. Riasan itu dituding tak profesional dan tak pantas di ruang politik.
Ventura percaya bahwa dengan mengerdilkan tampilan, ia telah memenangkan perdebatan. Namun, sejarah punya cara memantulkan kembali kekerdilan itu.
Ribuan perempuan bergerak membalas. Tagar #VermelhoEmBelem (Merah di Belém) membakar jagat siber. Kata "Belém" merujuk pada Belém Palace (Istana Kepresidenan Portugal) yang menjadi tujuan pencalonan presiden tersebut.
Foto-foto berlatar gincu merah membanjiri lini masa, seolah perlawanan menuju istana kepresidenan itu telah menang mutlak di panggung digital.
Namun, layar telepon pintar kerap menyajikan ilusi yang melampaui kenyataan.
Ketika bilik suara dibuka, Marisa Matias hanya mengantongi kurang dari empat persen suara. Sebaliknya, Ventura justru melesat hingga hampir dua belas persen.
Dunia digital memenangkan percakapan, tetapi dunia nyata memilih cerita yang sama sekali berbeda. Algoritma membuat ribuan orang merasa sedang mengubah dunia, padahal yang berubah hanyalah warna foto profil dan angka tagar.
Simbol perlawanan itu perlahan terkooptasi menjadi tren pasif, bahkan dilahap kapitalisme menjadi komoditas dagangan kosmetik. Di titik itulah, cermin retak dari Lisbon diam-diam terpantul ke wajah Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) hari ini.
Jebakan Lini Masa
Di tengah riuk gelombang digitalisasi, OPZ kerap berdiri di persimpangan yang mirip. Ada godaan besar untuk menjadikan lembaga sekadar panggung "lipstik merah" — mengejar kecantikan visual, estetika unggahan, dan jutaan jangkauan di media sosial.
Kadang, sejumlah OPZ suka "kebablasan" mengejar predikat paling hebat, paling populer, paling bisa dijadikan contoh, dan bahkan paling gaul di panggung publik.
Beberapa di antaranya terlihat memaksakan pimpinannya untuk tampil menonjol. Mulai dari sering wara-wiri menghadiri konferensi di luar negeri, memamerkan kehebatan akademik seperti jenjang studi doktoral, penelitian jurnal terindeks Scopus, hingga aktivitas kelas S3.
Ada lagi yang lebih _absurd_: menayangkan segudang jadwal aktivitas harian pimpinannya secara maraton—mulai dari mengisi acara, seminar, diskusi, hingga pelatihan di lini masa.
Panggung personal branding sang pemimpin mendadak lebih bising daripada wacana transformasi hidup para mustahik yang diurusnya.
Tak berhenti di sana, sejumlah OPZ pun gagal paham memaknai keberhasilan pemberdayaan mustahik.
Energi dan sumber daya sejumlah OPZ sering kali dihabiskan saat agenda launching atau peresmian acara. Mereka menghadirkan banyak tokoh dan pejabat, mengundang puluhan media, hingga menggandeng influencer agar mengabarkan program yang hari itu diresmikan.
Namun, mereka kerap lupa menyiapkan pendamping program yang baik, kurikulum pendampingan yang efektif dan sesuai kebutuhan, serta roadmap yang detail dan presisi dengan dukungan sumber daya serta dana yang memadai.
Banyak OPZ mengejar kemegahan saat peresmian, namun entah bagaimana nasibnya setelah itu.
Dan konyolnya, mereka terkejut serta merasa gagal ketika akhirnya melakukan evaluasi di akhir periode. Mengapa programnya tidak berhasil?
Fenomena ini seakan mengonfirmasi pesan mendalam dari seorang aktivis senior: "Barang siapa yang gagal merencanakan, sesungguhnya ia sedang merencanakan untuk gagal."
Feed Instagram yang rapi, video emosional dengan lagu tren, serta klaim angka berkilau sering dianggap bukti sah keberhasilan. Lembaga zakat perlahan terancam bergeser dari penggerak perubahan riil menjadi sekadar produsen konten dan panggung personalitas.
Kemiskinan dan ketimpangan sosial berisiko ditangkap bukan sebagai krisis yang harus dibongkar hingga ke akarnya, melainkan sebagai bahan mentah demi meraup likes, shares, dan popularitas personal.
Padahal, sebagaimana kemiskinan yang tidak bisa dikenyangkan oleh riuhnya tagar, transformasi hidup seorang mustahik tidak pernah selesai oleh indahnya infografis ataupun menterengnya gelar pimpinan.
Ada jurang menganga antara kecepatan jempol membagikan konten dengan kelambatan proses pemberdayaan masyarakat di lapangan.
Mengubah seorang yang terbelenggu utang menjadi mandiri, mendampingi petani miskin menembus tengkulak, atau membina anak-anak stunting di pelosok membutuhkan napas panjang. Itu adalah kerja-kerja sunyi yang kerap tak seksi untuk dijadikan video lima belas detik.
Ketika OPZ terjebak dalam kompetisi penampilan dan ego kepemimpinan, ia sedang membiarkan dirinya ditelan oleh logika kapitalisme digital yang dangkal: tempat di mana impresi dianggap lebih penting daripada substansi.
Tentu, ini bukan panggilan untuk menolak media sosial dan bersembunyi di dalam gua. Media sosial tetaplah ruang publik modern yang harus diisi untuk menyampaikan syiar dan akuntabilitas.
Namun, media sosial seharusnya berfungsi sebagai jendela yang jujur, bukan benteng yang menyembunyikan kerapuhan realitas di balik citra pimpinannya.
Keberanian OPZ yang sejati—sebagaimana keberanian memilih "lipstik merah" dalam arti sesungguhnya—bukanlah keberanian untuk terlihat paling keren di layar gawai.
Keberanian sejati adalah ketangguhan para amil untuk tetap memilih jalan yang sulit: memegang teguh prinsip transparansi, menembus wilayah tak tersentuh sinyal, serta mengukur keberhasilan dari tegaknya kemandirian dan martabat manusia.
Pada akhirnya, sejarah pengentasan kemiskinan tidak akan pernah diubah oleh warna kemasan, deretan sertifikat, atau mahirnya bersolek di lini masa.
Sejarah senantiasa diubah oleh orang-orang yang menolak sekadar ikut arus. Mereka bersedia menanggung risiko dan peluh di dunia nyata demi membela pikiran serta nilai yang diyakini.
OPZ harus berani menentukan pilihan perannya hari ini: apakah ingin terus terbuai menjadi pemenang dalam riuhnya narasi maya yang rapuh, atau memilih menjadi penjelajah sunyi yang jejak langkahnya benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan di garis depan realitas. [ ].
ARTIKEL03/08/2026 | Nana Sudiana (Wakil Ketua IV BAZNAS Jabar)
Amil dan Ujian Rumah Tangga
Serial Ke-17 Madrasah Amil BAZNAS Jawa Barat
Tugas suci seorang amil zakat adalah mengelola dana umat dengan penuh amanah, kejujuran, dan ketakwaan. Tugas utama mereka mencakup pengumpulan, pencatatan, pemeliharaan, serta pendistribusian harta zakat agar tepat sasaran kepada para mustahik yang berhak. Dalam kancah pengoperasian zakat, amil bertugas menghimpun dana dari para muzaki sesuai ketentuan syariat, mencatat setiap transaksi secara teliti dan transparan, hingga menjaga amanah dengan memastikan keamanan harta titipan serta memisahkannya secara tegas dari dana operasional.
Namun di balik perannya sebagai penjaga harta umat, seorang amil tetaplah manusia biasa yang berlayar dalam bahtera rumah tangga. Pernikahan tak pernah benar-benar selesai pada hari janji suci diucapkan. Bagi seorang amil di Lembaga Amil Zakat (LAZ) maupun BAZNAS, rumah tangga adalah jalan panjang dengan etape yang terus bergeser—tempat dua jiwa bertaruh pada sang waktu, kesetiaan, dan keikhlasan isi dada di tengah padatnya denyut pengabdian. Di setiap helai kalender yang tanggal, lintasan hidup selalu menyajikan kejutannya sendiri yang tak terduga, menagih kadar kesabaran serta kualitas komunikasi yang selalu berbeda.
Penulis Robert Stevenson pernah bergumam bahwa pernikahan sejatinya adalah satu percakapan yang sangat panjang, yang di dalamnya tak terelakkan akan mengalami masa-masa krisis. Al-Qur'an pun menegaskan bahwa kehidupan berpasangan dan berumah tangga tak lepas dari sunnatullah berupa ujian dan cobaan. Allah SWT berfirman:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)
Cepat atau lambat, setiap pasangan amil pasti akan berhadapan dengan badainya masing-masing. Benturan adalah bagian tak terpisahkan dari cara dua jiwa untuk bertumbuh di tengah tuntutan integritas dan akuntabilitas profesionalisme amil. Namun krisis bukanlah pertanda akhir, melainkan gerbang menuju tingkat kedewasaan yang baru. Ketika badai berhasil dilalui, pasangan tidak sekadar bertahan, tetapi menemukan cara-cara baru untuk saling membahagiakan, melampaui batas-batas cemas yang pernah mengancam.
Pada tahap awal—terutama di tahun pertama yang sering disebut sebagai fase realisasi—pesona jatuh cinta yang mulanya membumbung perlahan menjejak bumi. Di antara ritme kerja amil yang padat, tangis bayi di tengah malam, kelelahan fisik seusai tugas lapangan, dan hitungan keuangan dapur yang harus ditata ketat, pasangan amil mulai melihat satu sama lain sebagaimana adanya. Lengkap dengan segala cela, kebiasaan kecil yang mengganggu, serta tuntutan untuk belajar bekerja sebagai satu tim yang saling menopang.
Memasuki tahun ketiga hingga kelima, bahaya justru datang dari zona nyaman yang melunakkan kepekaan sekaligus benturan ego pribadi yang masih sama-sama tinggi. Amil yang kerap disibukkan dengan urusan muzakki dan mustahik rentan membawa kelelahan pulang ke rumah. Pasangan mulai menganggap kebersamaan sebagai hal yang biasa, lupa mengutarakan rasa cinta, dan membiarkan kebosanan mengendap halus di sudut-sudut rumah. Di fase ini, perbedaan pandangan tentang pola asuh anak kerap beradu dengan gengsi yang enggan saling mengalah.
Ujian itu kerap menjelma dalam bentuk benturan riil antara beban tugas dan realita dapur rumah tangga. Setiap hari sang amil sibuk menghitung, membagikan, dan memastikan rupiah demi rupiah hak para fakir miskin tersampaikan secara akurat dan jujur. Namun di rumahnya sendiri, dapur kerap kali sunyi—beras kadang tinggal segenggam, dan anak-anaknya menahan lapar tanpa sedikit pun sang amil berani mencicipi atau mengambil bagian harta zakat yang bukan haknya.
Di titik ini, sang istri yang lelah kerap terdesak oleh kesederhanaan ekstrem. Prasangka kerap singgah di dada, mengira suaminya memegang gulungan uang dari lembaga amil, namun tak mampu mencukupi kebutuhan rumah. Ujian makin pekat ketika fitnah dan sangkaan miring berembus dari tetangga sekitar yang tak paham, menganggap sang amil menyembunyikan kekayaan, padahal ia bekerja murni atas dasar pengabdian dengan bisyarah yang sangat bersahaja.
Di tengah guncangan ekonomi dan prasangka keluarga, sang amil berjuang menjaga pintu qana'ah. Dengan ketenangan dan tutur kata yang lembut, ia terus merangkul istrinya, mengingatkan bahwa rezeki telah tertulis dengan pasti dan kehormatan seorang penjaga harta zakat tak boleh digadaikan oleh niat yang menyimpang. Perlahan, ketulusan dan keteguhan iman sang amil melunakkan hati sang istri. Kesabaran mereka akhirnya membukakan jalan kemudahan dari arah yang tak disangka-sangka, menghadirkan ketenangan yang hakiki di bawah naungan ridha Allah.
Menjelang tahun ketujuh, psikologi mengenal istilah seven-year itch—sebuah fase gatal tempat rutinitas berisiko memadamkan gejolak dan daya tarik emosional maupun fisik. Rasulullah SAW mengingatkan agar seorang suami tidak tergesa-gesa membenci istrinya hanya karena melihat satu kekurangan, melainkan hendaknya melihat kebaikan-kebaikan lain yang ada padanya. Beliau bersabda:
"Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu perangainya, niscaya ia akan ridha dengan perangainya yang lain." (HR. Muslim)
Ketika merasa sudah saling tahu segalanya di tengah himpitan rutinitas kerja Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), komunikasi yang jujur dan keterbukaan tentang masa depan menjadi satu-satunya penawar agar hubungan tak sekadar berjalan di atas mesin otomatis.
Melangkah ke dekade pertama hingga tahun ke-15, medan laga berubah bentuk menjadi jauh lebih riuh dan meletihkan. Tumpukan tanggung jawab berada di puncaknya saat amil menduduki amanah kepemimpinan atau posisi strategis di lembaga, sementara anak-anak beranjak besar menyerap habis sisa energi harian. Hilangnya waktu romantis bersama akibat himpitan program audit, penyaluran zakat, dan agenda operasional membuat ruang kalbu rentan disusupi kelelahan jiwa, bahkan membuka celah bagi godaan dari luar yang berbisik lebih nyaring. Di masa sulit ini, humor, kelembutan, dan kemampuan untuk tertawa bersama menjadi penyelamat yang sangat berharga.
Namun, angka tahun yang panjang dan rekam jejak pengabdian di keamilan ternyata tak pernah menjadi jaminan mutlak bagi sebuah bahtera untuk selamat sampai ke seberang. Di sekitar kita, fakta pahit itu terbentang nyata. Ada pasangan amil yang telah membersamai hari-hari hingga delapan belas tahun lamanya, menenun ribuan kenangan perjuangan dakwah zakat, namun tetap terantuk pada karang tajam yang membuat ikatan itu akhirnya karam juga.
Sebab sewaktu waktu mengetuk pintu tahun ke-20 dan seterusnya, krisis paruh baya hadir membawa gelombang pertanyaan tentang pencapaian diri, cita-cita masa muda yang tertunda, serta perubahan fisik yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat yang sama, anak-anak remaja tumbuh dengan jalan pikirannya sendiri yang kritis, menuntut pola pengasuhan dan kesabaran yang sama sekali baru. Tanpa tenggang rasa, percakapan sehari-hari di usia matang ini sangat mudah berubah menjadi hambar dan dingin, sekadar penyampaian pesan formal tanpa kehangatan.
Padahal, setelah melewati dua dekade bersama dalam riak-gelombang perjuangan keamilan, pasangan seharusnya telah menempa pondasi yang begitu kokoh dari ribuan cobaan yang telah lalu. Namun, perjalanan hidup belum usai, sebab tahun ke-20 dan seterusnya justru membawa kebersamaan ini memasuki babak baru: ujian kebersamaan di usia matang.
Tantangan yang hadir di fase ini sungguh nyata dan berlipat ganda. Sindrom empty nest atau sarang kosong menelusup pelan saat anak-anak dewasa mulai mandiri, mengejar karier, atau membangun bahtera rumah tangganya sendiri. Sunyi kembali singgah di kamar-kamar yang dulu riuh, memaksa dua manusia ini untuk kembali belajar saling menatap, merajut ulang rasa, dan mencari makna serta cara baru dalam merawat kedekatan di tengah kesepian yang mengintai.
Tanggung jawab pun meluas seiring bertambahnya peran baru sebagai mertua dan hadirnya keluarga besar dari anak-anak yang telah menikah. Di saat yang sama, tubuh amil yang dulu lincah menembus pelosok medan penyaluran zakat kini mulai mengirim penanda penuaan—fisik tak lagi sebugar dulu, penyakit mulai menyapa, dan kesehatan yang menurun menuntut penyesuaian diri yang bijak serta keikhlasan ekstra untuk saling merawat satu sama lain.
Ketika tahun perak kian mantap membingkai ingatan di usia 25, 30 tahun, hingga seterusnya, ujian pernikahan telah menjelma menjadi pendampingan yang paling murni di hari tua. Sepi akan menjadi sangat pekat jika kedua hati tidak saling menguatkan. Rasulullah SAW memberikan petunjuk agung tentang bagaimana sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling lembut dan berkasih sayang kepada keluarganya:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya), dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi)
Di titik ini, kebersamaan seorang amil bukan lagi soal jabatan lembaga atau gejolak rasa masa muda, melainkan tentang menjaga sisa napas kebaikan, merawat kehangatan yang telah dirajut puluhan tahun, serta saling mendoakan agar ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah) yang dijanjikan Allah SWT terus bertunas hingga ke surga-Nya:
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21)
Pada akhirnya, tidak ada angka tahun pernikahan seorang amil yang benar-benar kebal dari gelombang dan krisis. Namun, di atas semua etape yang melelahkan itu, pernikahan amil yang selamat selalu menemukan jalannya untuk bertahan: lewat kehangatan komunikasi yang tak pernah padam, saling pengertian yang makin dalam, dan komitmen yang teguh untuk terus menggenggam jemari yang sama hingga akhir garisan. [ ].
ARTIKEL31/07/2026 | Nana Sudiana (Wakil Ketua IV BAZNAS Jabar)
Atomic Amil
Serial Ke 12 Madrasah Amil Jabar
"Jika Anda ingin mencapai keunggulan dalam hal-hal besar, Anda harus mengembangkannya dalam hal-hal kecil. Keunggulan bukanlah tindakan sesaat, melainkan kebiasaan." — Kendra Kinnison
Menjadi amil di era modern bukan lagi sekadar perkara menjaga niat di dalam dada, melainkan bagaimana mengejawantahkan niat luhur tersebut dalam benteng rutinitas yang presisi.
Kita sering kali mendambakan lompatan besar—sebuah transformasi lembaga yang masif, digitalisasi yang memukau, atau lonjakan angka perolehan dana yang fantastis dalam semalam. Namun, realita di meja kerja berbicara lain. Kebesaran gerakan zakat tidak pernah dilahirkan oleh letupan-letupan momentum sesaat, melainkan oleh partikel-partikel kecil yang sunyi: atom-atom kebiasaan harian yang kita rawat dengan konsisten.
Di sinilah istilah "Atomic Amil" menemukan urgensi tertingginya. Mengadopsi ruh dari konsep "Atomic Habits", dimana kata "atomic" membawa dua pesan mendalam yang sangat mendesak bagi jiwa setiap pejuang filantropi.
Pertama, ia adalah bagian dari sistem yang lebih besar. Seorang amil bukanlah individu terisolasi; setiap sapaan ramah pada mustahik, setiap ketepatan waktu menginput data muzaki, hingga setiap menit yang dihabiskan untuk membalas pesan layanan, adalah atom-atom mikro yang menyusun molekul kredibilitas lembaga. Ketika satu atom kebiasaan ini cacat atau malas bergerak, seluruh sistem kepercayaan umat taruhannya.
Kedua, ia menyimpan kekuatan energi atom yang luar biasa. Perubahan sekecil satu persen kebaikan yang kita lakukan secara konsisten di balik kubikel kantor mungkin terasa sepele dan tak kasat mata hari ini. Namun, jika ia digulirkan tanpa putus, dampaknya akan berlipat ganda secara eksponensial dalam jangka panjang, mampu meruntuhkan dinding kemiskinan dan mengubah lanskap peradaban umat.
Urgensi menuliskan dan menghidupkan jiwa "Atomic Amil" ini adalah untuk menyelamatkan para pejuang zakat dari penyakit burnout dan keputusasaan. Di tengah belantara tekanan target, riuhnya ekspektasi publik, dan kelelahan emosional saat menatap langsung gurat duka kemiskinan, amil membutuhkan jangkar kewarasan.
Menuliskan Atomic Amil adalah sebuah upaya mengembalikan fokus kita pada apa yang sanggup kita kendalikan: membenahi identitas diri, merapikan rutinitas kerja, dan menjaga keikhlasan dari hal-hal paling mikro.
Menjadi Amil Lahir Batin
Artikel ini lahir bukan untuk mendikte teori-teori manajemen yang melangit, melainkan menjadi teman curhat yang renyah dan dalam. Ia mengetuk kesadaran kita bahwa jalan dakwah zakat ini harus ditempuh dengan langkah-langkah kecil yang berirama.
Kita tidak sedang diajak untuk mengubah dunia dalam kedipan mata, melainkan diajak untuk setia pada proses perbaikan harian. Sebab pada akhirnya, tumpukan atom-atom kebaikan kecil itulah yang akan kita bawa pulang menghadap langit sebagai warisan kemaslahatan yang paripurna.
Saat kesadaran menjadi amil ini kian matang, kita mulai memahami bahwa menjadi amil itu seakan meniti jembatan tipis di atas riak dunia, di mana ujungnya harus berlabuh di langit.
Kita kerap melangkah tergesa dengan seragam rapi dan senyum yang dipaksakan, menyembunyikan lelah yang menggelayut di kelopak mata setelah seharian mengejar angka perolehan. Publik melihat kita sebagai benteng kesalehan, manusia-manusia suci pemegang kunci amanah umat, namun di balik kubikel kantor, kita hanyalah hamba yang ringkih, yang tak jarang menangis sendirian karena dihantam badai kecemasan.
Di ruang-ruang sunyi itu, emosi kita sering terkuras habis, bukan karena benci pada tugas, melainkan karena begitu dalamnya empati yang tumpah saat menatap langsung gurat kemiskinan di wajah para mustahik. Namun, perubahan luar biasa di jalan dakwah zakat ini tidak pernah datang dari transformasi besar dalam semalam, melainkan dari akumulasi kebiasaan-kebiasaan kecil yang konsisten, yang kita rawat setiap hari.
Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) acapkali menjelma menjadi belantara ekspektasi yang riuh. Kita terjebak dalam pusaran untuk memuaskan semua orang: pimpinan yang menuntut laporan presisi, muzaki yang meminta sanjungan dan kepastian, hingga publik yang tak pernah lelah melempar kritik tajam di jagat maya. Padahal, jika kita mau belajar memeluk kedamaian, ada batas tegas yang harus disadari—apa yang sanggup kita kendalikan dan apa yang berada di luar jangkauan jemari kita.
Ketika kritik di media sosial datang bertubi-tubi, reaktivitas yang meledak-ledak hanya akan mengotori ketulusan. Menghadapinya dengan keanggunan data, ketenangan sikap, dan tutur kata yang santun adalah cara terbaik untuk tetap waras di tengah badai, sembari perlahan mengikis sindrom haus pujian yang kerap menjadi racun bagi keikhlasan.
Belajar dari Kaca Spion
Hidup kita kadang perlu juga kaca spion bak sepeda motor atau mobil. Dimana dengan adanya kaca spion, kita tak perlu menoleh untuk melihat ke belakang kita. Dari kaca spion, kita tahu bagaimana kondisi di samping dan belakang kita.
Begitu pula hidup kita saat ini. Sesekali, kita perlu evaluasi atau muhasabah. Merenungi dan mengkaji ulang masa lalu yang sudah kita tinggalkan. Namun, melihat kembali masa lalu, tak boleh terlalu lama. Karena, justru berbahaya bagi laju kita saat ingin menuju masa depan. Spion dalam hidup perlu, walau dalam batas secukupnya dan tak terjebak di dalamnya.
Hari ini, bagi para amil yang telah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun menjadi amil, tetap perlu juga melihat ke belakang. Melihat kilas balik perjalanan gerakan dakwah zakat ini dari awal. Mulai Dua Puluh, Sepuluh atau Lima tahun sebelum ini. Situasi dimana hal-hal kecil dan mungkin juga "lucu" atau bahkan "aneh" sempat muncul atau berkembang di dunia zakat.
Di fase awal, makna sejati dari kata atomic atau atomik itu teruji. Sesuatu yang bermakna sangat kecil, sepele, atau merupakan unit terkecil dari sebuah sistem yang lebih besar. Kebiasaan kecil seorang amil sesungguhnya bertindak layaknya atom yang menyusun sebuah molekul besar bagi kelembagaan; perubahan kecil inilah yang menjadi bahan penyusun dari hasil yang luar biasa.
Sebuah transformasi digital yang megah, misalnya, tidak akan pernah tegak jika amilnya masih abai pada hal-hal kecil; menunda-nunda menginput data muzaki atau membiarkan ruang obrolan layanan pelanggan berdebu tanpa balasan. Kedisiplinan kecil untuk mengevaluasi respons layanan dalam hitungan menit setiap pagi adalah ketukan-ketukan palu yang perlahan meruntuhkan kemalasan, membentuk budaya kerja baru yang tangkas dan responsif.
Meski ukurannya tampak sangat kecil dan remeh, jika kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten oleh setiap lini amil, dampaknya akan berlipat ganda dan memberikan perubahan drastis dalam jangka panjang. Ia menyimpan kekuatan luar biasa, persis seperti energi atom yang tak kasat mata namun mampu menggerakkan peradaban. Kebaikan satu persen yang kita pupuk dan jaga setiap hari di meja kerja kita, pada akhirnya akan melahirkan lompatan dampak yang eksponensial bagi umat.
Sebab, mengelola dana umat adalah perkara mengetuk pintu hati, bukan sekadar memindahkan angka-angka di layar komputer. Sungguh sebuah pemandangan yang menyedihkan jika amil datang menemui muzaki dengan mentalitas layaknya penagih pajak yang dingin, atau sebaliknya, mendekati mustahik dengan tatapan merendahkan seolah sedang membagikan remah-remah belas kasihan.
Komunikasi kultural yang berempati, yang memadukan kehangatan silaturahmi tradisional dengan kecanggihan digital, selalu berhasil mengikat loyalitas muzaki lebih kuat dari trik pemasaran manapun. Begitu pula saat melakukan penilaian di lapangan; mendengar dengan utuh jeritan hati para mustahik adalah cara kita memuliakan martabat manusia, memastikan bahwa zakat hadir untuk mengangkat derajat, bukan meruntuhkan harga diri.
Namun, ujian terberat seorang amil bukanlah letihnya raga, melainkan bagaimana ia memperlakukan uang yang mengalir di depannya. Berada di lingkaran yang mengelola miliaran rupiah dana umat adalah sebuah ilusi yang memabukkan jika benteng psikologis kita rapuh.
Di sinilah pentingnya menanamkan mentalitas merasa cukup, sebuah rasa kaya di dalam jiwa agar kita tidak pernah silau oleh angka-angka yang lewat. Transparansi tidak boleh hanya menjadi pajangan di lembar SOP atau sekadar demi menggugurkan kewajiban audit kepatuhan syariah.
Mental "menjadi amil yang amanah dan profesional" harus menjadi kebutuhan spiritual yang radikal bagi setiap amil. Sebuah kesadaran bersama harus tumbuh dengan kuat pada diri setiap amil, bahwa setiap rupiah yang kita kelola adalah saksi yang akan berbicara di hadapan keadilan Tuhan.
Sayangnya, tak jarang energi kita habis bukan karena melayani umat, melainkan karena bertarung melawan ego di meja kerja sendiri. Ada tembok tebal yang kerap memisahkan antara divisi pencarian dana yang merasa menjadi pahlawan perolehan, dengan divisi penyaluran yang merasa paling tahu beban penderitaan di lapangan.
Ada kalanya, konflik internal ini sering diperparah oleh jurang komunikasi antara amil senior yang mengagungkan cara-cara lama dengan amil muda yang mendambakan pembaruan cepat. Terkadang, perlu juga dibuat kebijakan "percobaan pekerjaan" yang mendorong setiap amil harus "memerankan" jenis pekerjaan tertentu agar ia paham dan tak menilai rendah pekerjaan amil lainnya.
Bertukar peran ini misalnya seorang staf pencarian (pengumpulan) dana ditugaskan menjadi bagian program penyaluran atau pendistribusian dengan tugas memikul beras dan berjalan menyusuri pelosok desa untuk membagikan zakat. Hal ini terbukti ampuh dalam rangka meluluhkan keangkuhan sektoral itu.
Ketika mereka merasakan sendiri beratnya menyalurkan bantuan hingga ke pelosok-pelosok desa nun jauh untuk dijangkau, barulah mereka sadar bahwa kita semua adalah satu tubuh, bagian-bagian kecil dari satu sistem yang tak boleh saling mematikan.
Dunia bergerak dengan kecepatan yang mencemaskan, dan tantangan kemiskinan berkembang menjadi labirin yang kian rumit. Amil yang menolak menjadi pembelajar dan memilih meringkuk di zona nyaman rutinitas administrasi akan segera usang ditelan zaman. Kita dituntut untuk memiliki cara pandang yang terus bertumbuh, tidak segan mempelajari ilmu data, psikologi modern, hingga dinamika ekonomi global demi melahirkan program pemberdayaan yang presisi.
Kehadiran ruang-ruang kaderisasi dan sertifikasi kompetensi nasional adalah ikhtiar kita bersama untuk menaikkan kelas profesi ini, mengubah persepsi publik dari sekadar pekerja sosial sukarela menjadi para profesional filantropi yang disegani.
Pada akhirnya, kepemimpinan di dalam gerakan ini bukanlah tentang megahnya ruang direksi atau tingginya anak tangga jabatan. Kepemimpinan seorang amil adalah kepemimpinan yang melayani, sebuah teladan yang bisa dipancarkan bahkan dari kubikel staf yang paling pojok.
Saat badai bencana nasional datang melanda, ketepatan kita untuk mengesampingkan ego warna bendera organisasi dan melebur dalam satu komando kemanusiaan adalah bukti nyata bahwa orkestrasi empati jauh lebih kuat daripada sekat-sekat birokrasi. Kita memimpin dengan memberikan pundak untuk memikul beban mereka yang tertindas.
Menjadi amil adalah sebuah pilihan sadar, sebuah jalan hidup terhormat, dan sama sekali bukan tempat pelarian bagi mereka yang kalah dalam persaingan duniawi. Ini adalah ruang di mana visi ukhrawi dan prestasi duniawi berkelindan dengan anggun.
Setiap tetes keringat yang jatuh, setiap tindakan mikro yang kita rutinkan, dan setiap sistem yang kita rapikan dengan konsisten adalah atom-atom kebaikan yang sedang kita susun sebagai warisan kemaslahatan bagi masa depan umat.
Dan, ketika kelak perjalanan karir ini harus ditutup, kita ingin melangkah pergi dengan senyum tenang, meninggalkan sebuah warisan yang kokoh, integritas yang tak ternoda, dan jejak manfaat yang abadi sebagai tabungan kepulangan yang paripurna.
Semoga.
*). Ditulis di Cijagra, menjelang rembang petang, Kamis, 25 Juni 2026
ARTIKEL26/06/2026 | Nana Sudiana (Wakil Ketua IV BAZNAS Jabar)
Kisah Umar bin Khattab : Kepemimpinan dan Kebijaksanaan yang Mengagumkan
Dalam sejarah Islam, ada banyak sosok yang menjadi inspirasi tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya hadir bagi rakyatnya. Salah satunya adalah Umar bin Khattab RA, khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Umar memiliki peran penting dalam memperluas wilayah Islam dan membangun sistem pemerintahan yang adil. Umar bukan hanya pemimpin yang kuat, tetapi juga pribadi yang penuh kebijaksanaan. Keberanian, ketegasan, dan kepeduliannya membuat ia dikenang sebagai teladan kepemimpinan hingga hari ini.
Dari Penentang Menjadi Pembela Islam
Kisah hidup Umar bin Khattab memberi pelajaran besar tentang perubahan hati manusia. Ia lahir di Mekah pada tahun 584 M, tumbuh sebagai pribadi yang keras dan disegani. Bahkan sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai salah satu penentang paling gigih ajaran Nabi Muhammad SAW hingga pernah berniat membunuh Rasulullah demi mempertahankan keyakinan leluhurnya.
Namun, takdir Allah begitu indah. Saat mendengar lantunan ayat Al-Qur’an di rumah Fatimah yang merupakan saudarinya, hatinya luluh. Umar yang awalnya berniat memusuhi Islam, justru memeluknya dengan sepenuh hati. Sejak saat itu, keberanian dan kekuatannya berpindah arah—dari menentang menjadi membela kebenaran. Nabi Muhammad SAW bahkan memberinya julukan Al-Faruq, yang berarti “pembeda antara yang benar dan yang salah”.
Pemimpin yang Mengutamakan Keadilan
Sebagai khalifah, Umar bin Khattab tidak hanya memperluas wilayah Islam hingga Persia, Mesir, Suriah, dan Palestina. Lebih dari itu, ia membangun sistem pemerintahan yang berkeadilan. Ia mendirikan Baitul Mal untuk memastikan harta negara digunakan bagi rakyat, membagi wilayah menjadi provinsi dengan pemimpin yang dipilih karena kemampuan, bukan karena kedekatan.
Salah satu hal yang paling dikenang adalah kebiasaannya berjalan di malam hari untuk memastikan rakyatnya tidak ada yang kelaparan. Umar tidak ingin hanya menerima laporan, ia ingin melihat langsung. Pernah suatu malam, ia mendapati seorang ibu yang menenangkan anaknya dengan panci kosong hanya agar sang anak bisa tertidur. Umar pun segera kembali membawa gandum di punggungnya sendiri, menyalakan api, dan memasak untuk keluarga itu. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan bukan soal kekuasaan, melainkan soal pelayanan.
Beberapa pencapaian penting Umar Bin Khattab saat menjadi Khalifah :
1. Membagi Kekhalifahan menjadi Provinsi
Umar membagi kekhalifahan menjadi beberapa provinsi dan menunjuk gubernur yang cakap untuk mengelolanya. Ia memastikan bahwa para pemimpin ini dipilih berdasarkan kemampuan dan integritas mereka, bukan karena hubungan keluarga atau kekayaan.
2. Mendirikan Baitul Mal
Umar mendirikan Baitul Mal, atau perbendaharaan negara, yang mengelola keuangan negara. Melalui institusi ini, ia memastikan bahwa kekayaan negara digunakan untuk kepentingan rakyat, terutama yang miskin dan membutuhkan.
3. Menegakkan Keadilan Secara Adil
Ia tidak pernah ragu untuk menegakkan hukum secara adil. Bahkan jika keputusannya mendapat kritik, ia dengan rendah hati menerima masukan dan melakukan koreksi jika diperlukan.
Kebijaksanaan dalam Menghadapi Krisis
Ketika Madinah dilanda kekeringan panjang, Umar tidak hanya berdoa memohon hujan, tetapi juga bergerak cepat. Ia mengirim bantuan dari berbagai provinsi, memastikan rakyatnya tidak dibiarkan menderita. Sikap ini menunjukkan kebijaksanaannya: doa harus disertai ikhtiar nyata.
Selain itu, Umar memperkenalkan kalender Hijriyah dengan menjadikan peristiwa hijrah Nabi sebagai titik awal. Keputusan sederhana ini ternyata menjadi warisan besar yang masih kita gunakan hingga kini.
Teladan Bagi Pemimpin Sepanjang Masa
Kisah sahabat Umar bin Khattab bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin kepemimpinan sejati: berani tapi lembut, tegas tapi penuh kasih, kuat tapi tetap rendah hati. Umar mengajarkan bahwa pemimpin sejati bukanlah yang hanya berpidato di depan rakyatnya, melainkan yang hadir, peduli, dan siap memikul beban rakyat dengan tangannya sendiri.
Dalam kehidupan modern, teladan Umar bin Khattab tetap relevan. Para pemimpin, baik dalam keluarga, organisasi, maupun negara, bisa belajar darinya bahwa kebijaksanaan dan keadilan adalah fondasi yang membuat kepemimpinan dihormati dan dicintai.
ARTIKEL17/09/2025 | HUMAS BAZNAS JABAR
Nama Paman Nabi Muhammad : Abu Thalib dan Perannya dalam Dakwah
Kalau kita ngomongin sejarah awal dakwah Nabi Muhammad SAW, nama Abu Thalib nggak bisa dilewatkan. Beliau adalah paman Nabi yang punya peran besar banget dalam menjaga, melindungi, dan mendukung perjuangan Rasulullah—meski dirinya sendiri tidak pernah secara resmi memeluk Islam.
Buat Nabi Muhammad, Abu Thalib bukan cuma paman, tapi juga figur ayah kedua. Setelah kakeknya, Abdul Muthalib, wafat, Abu Thaliblah yang merawat Nabi sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Bayangin aja, beliau memperlakukan Nabi seolah anak kandung sendiri—selalu ada, selalu siap jadi pelindung.
Abu Thalib, Tameng Dakwah Nabi
Ketika Nabi mulai berdakwah menyampaikan Islam, situasi waktu itu super sulit. Quraisy yang masih teguh pada tradisi paganisme merasa terusik dan mulai melawan. Tapi Abu Thalib, sebagai kepala Bani Hasyim, berdiri tegak di belakang keponakannya.
Bahkan, para pemimpin Quraisy sempat datang ke Abu Thalib bawa tawaran “menggiurkan”: kekayaan, jabatan, bahkan kekuasaan—asal Nabi berhenti berdakwah. Tapi Abu Thalib menolak mentah-mentah. Baginya, melindungi Nabi jauh lebih berharga daripada semua yang ditawarkan.
Salah satu momen paling berat adalah ketika Quraisy memboikot keluarga besar Nabi selama tiga tahun. Hidup dalam tekanan, susah makan, serba kekurangan. Tapi Abu Thalib tetap setia mendampingi Nabi, nggak pernah sekalipun meninggalkannya sendirian menghadapi badai.
Pengorbanan Abu Thalib Hingga Akhir Hayat
Abu Thalib terus menjaga Nabi sampai akhir hidupnya. Meski begitu, ia tetap bertahan pada keyakinan lamanya dan tidak memeluk Islam. Buat Nabi, ini tentu berat banget. Beliau sangat berharap pamannya bisa menerima Islam, tapi Allah menakdirkan lain.
Wafatnya Abu Thalib pada tahun ke-10 kenabian jadi pukulan telak bagi Nabi Muhammad. Tahun itu bahkan disebut sebagai ‘Aam al-Huzn atau Tahun Kesedihan, karena di tahun yang sama, Nabi juga kehilangan istri tercinta, Khadijah. Hilangnya Abu Thalib membuat posisi Nabi semakin rentan di tengah tekanan Quraisy.
Warisan Abu Thalib untuk Sejarah Islam
Meski nggak masuk Islam, jasa Abu Thalib dalam mendukung dakwah Nabi tetap tercatat besar dalam sejarah. Bisa jadi, tanpa perlindungan dan pengaruhnya, dakwah Islam di Mekah nggak akan bisa bertahan sekuat itu.
Dari kisah Abu Thalib, kita bisa belajar bahwa dukungan terhadap kebenaran nggak selalu harus datang dari keyakinan yang sama. Kadang, kasih sayang, loyalitas, dan ikatan keluarga bisa jadi tameng terkuat dalam perjuangan.
Abu Thalib mengajarkan bahwa pemimpin atau pelindung sejati adalah mereka yang berani berdiri di sisi kebenaran, meski harus menghadapi risiko besar.
ARTIKEL17/09/2025 | HUMAS BAZNAS JABAR
Doa Nabi Muhammad : Kumpulan Doa-Doa Mustajab yang bisa Diamalkan
Doa adalah salah satu bentuk ibadah yang paling mendasar dalam Islam, dan Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada umatnya berbagai macam doa yang memiliki keutamaan besar. Doa menjadi cara efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta untuk memohon kebaikan, perlindungan, dan ampunan. Berikut adalah beberapa doa mustajab yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Doa Nabi Muhammad untuk Memohon Kebaikan Dunia dan Akhirat
Salah satu doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah doa yang mencakup permohonan kebaikan di dunia dan akhirat. Doa ini melambangkan keseimbangan hidup yang diajarkan dalam Islam, yakni tidak hanya mengejar kebahagiaan dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati.
"Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qina 'adzaabannaar."
Artinya: "Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).
Doa ini sangat dianjurkan untuk dibaca setiap selesai shalat, sebagai bentuk permohonan kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Doa Nabi Muhammad Ketika Menghadapi Kesulitan
Dalam kehidupan, setiap manusia pasti akan menghadapi kesulitan dan tantangan. Untuk menghadapi situasi sulit tersebut, Nabi Muhammad SAW mengajarkan sebuah doa yang bertujuan untuk memohon kekuatan dan perlindungan dari Allah SWT. Doa ini membantu seseorang mendapatkan ketenangan dan kestabilan hati saat didera kesulitan.
"Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazan, wal 'ajzi wal kasal, wal jubni wal bukhli, wa ghalabatid-dayn wa qahrir rijaal."
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tekanan ketakutan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan keserakahan, serta utang dan penindasan manusia." (HR. Abu Dawud).
Membaca doa ini dapat menenangkan jiwa dan memberikan kekuatan batin dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Doa Nabi Muhammad untuk Kesembuhan dari Penyakit
Ketika sakit, selain melakukan usaha medis, Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk memohon kesembuhan kepada Allah SWT melalui doa. Salah satu doa yang sering dibaca untuk kesembuhan adalah:
"Allahumma rabban nas, adzhibil ba'sa, isyfi anta asy-syafi, laa syifa'a illa syifa'uka, syifa'an laa yughadiru saqaman."
Artinya: "Ya Allah, Tuhan seluruh umat manusia, tolong hilangkan penyakit ini. Sembuhkanlah, karena kamu adalah penyembuh yang hebat. Tidak ada kesembuhan tanpamu, tidak ada kesembuhan tanpa meninggalkanmu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Doa ini sangat baik dibaca ketika kita atau orang terdekat sedang sakit, sebagai bentuk ikhtiar spiritual memohon kesembuhan dari Allah.
Doa Nabi Muhammad Ketika Menghadapi Bahaya
Selain menghadapi kesulitan, Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan dari segala bentuk bahaya. Doa ini memberikan perlindungan dari hal-hal buruk yang mungkin terjadi, baik di bumi maupun di langit:
"Bismillahilladzi la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fissamaa’i wa huwas sami’ul ‘alim."
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah yang bersama dengan nama-Nya, tidak ada sesuatu pun yang dapat merugikan kita di bumi dan di surga, Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Doa ini bisa dibaca pada pagi dan sore hari sebagai bentuk perlindungan diri dari mara bahaya.
Doa Nabi Muhammad untuk Memohon Ampunan
Rasulullah SAW selalu menekankan pentingnya istighfar atau memohon ampunan kepada Allah SWT. Salah satu doa istighfar yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad adalah Sayyidul Istighfar. Doa ini memiliki kedudukan yang istimewa karena diyakini sebagai bentuk permohonan ampunan yang paling sempurna:
"Allahumma anta rabbi, la ilaha illa anta, khalaqtani wa ana 'abduka, wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu, a'udzu bika min sharri ma sana'tu, abu’u laka bini’matika 'alayya, wa abu’u bi dhanbi faghfirli, fa innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta."
Artinya: "Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada tuhan selain Engkau, Engkau telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kulakukan. Ampunilah aku, sesungguhnya hanya Engkau yang bisa mengampuni dosa-dosa." (HR. Bukhari).
Membaca doa ini setiap hari sangat dianjurkan sebagai bentuk pengakuan atas dosa dan memohon ampunan dari Allah SWT.
ARTIKEL17/09/2025 | HUMAS BAZNAS JABAR
Amal jariyah artinya dan contoh amalan yang tidak terputus
Amal jariyah berasal dari kata ‘amal yang artinya perbuatan, dan jariyah yang berarti mengalir. Jadi, amal jariyah adalah perbuatan baik yang pahalanya terus mengalir meski pelakunya telah meninggal dunia. Dalam Islam, amal jariyah termasuk dalam jenis amal yang tidak akan terputus meskipun usia seseorang sudah berhenti di dunia.
Rasulullah bersabda: "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa ada amalan tertentu yang pahalanya akan terus mengalir meski sudah meninggal dunia, selama amalan tersebut masih bermanfaat bagi orang lain.
Perbedaan Amal Jariyah dengan Amal Biasa dan contohnya
Tidak semua amalan yang dilakukan seseorang bisa disebut sebagai amal jariyah. Seperti yang sudah dibahas, Amal jariyah artinya adalah amalan yang manfaatnya masih terus dirasakan oleh orang lain. Sebagai contoh:
Sholat dan puasa adalah ibadah yang berpahala, tetapi pahalanya berhenti saat seseorang meninggal sementara Membangun masjid atau sumur adalah amal jariyah karena selama maasjid dan sumur tersebut masih digunakan, pahalanya tetap mengalir.
Mengapa Amal Jariyah Sangat Dianjurkan?
Islam mengajarkan umatnya untuk selalu melakukan kebaikan yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang. Amal jariyah artinya adalah investasi akhirat yang tidak pernah merugi, karena seseorang tetap mendapatkan pahala meskipun sudah tidak bisa beramal lagi di dunia.
Banyak orang yang berlomba-lomba mengumpulkan harta di dunia, tetapi lupa menyiapkan bekal untuk akhirat. Amal jariyah artinya adalah cara terbaik untuk berinvestasi di akhirat. Dengan melakukan amal jariyah, seseorang bisa terus mendapatkan pahala meskipun ia telah wafat.
Contoh Amalan yang Tidak Terputus
A. Sedekah Jariyah
Sedekah jariyah adalah salah satu bentuk utama dari amal jariyah artinya sedekah yang terus memberikan manfaat bagi orang lain dalam jangka panjang. Beberapa contoh sedekah jariyah antara lain:
Membangun masjid
Membantu pembangunan pesantren
Menyediakan Al-Qur’an di masjid atau sekolah
Membangun sumur untuk masyarakat yang membutuhkan
Selama sedekah tersebut masih bermanfaat bagi orang lain, pahalanya akan terus mengalir kepada pemberinya.
B. Ilmu yang Bermanfaat
Ilmu yang diajarkan kepada orang lain dan terus digunakan juga termasuk dalam kategori amal jariyah artinya. Beberapa contoh ilmu yang bermanfaat antara lain:
Mengajarkan ilmu agama kepada murid
Menulis buku yang bermanfaat
Membuat konten dakwah atau edukasi di media sosial
Mengajarkan keterampilan yang bisa membantu kehidupan orang lain
Jika ilmu tersebut digunakan dan diajarkan kembali kepada orang lain, maka pahalanya akan terus mengalir.
C. Anak Saleh yang Mendoakan Orang Tuanya
Mendidik anak agar dia menjadi pribadi yang baik serta taat Kepada Allah adalah investasi amal jariyah. Seperti yang disebutkan dalam hadist sebelumnya, salah satu amal jariyah artinya adalah memiliki anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya. Jika sesorang anak di didik dengan baik, Insya Allah dia akan selalu berdoa untuk orang tuanya, membaca Al-Qur’an, dan melakukan amal kebaikan lainnya yang dicontohkan orang tuanya sehingga hal tersebut akan menjadi sumber pahala yang tidak terputus bagi kedua orang tuanya.
D. Membangun Fasilitas Umum
Membangun fasilitas yang bisa dimanfaatkan banyak orang juga termasuk dalam amal jariyah artinya amalan yang pahalanya terus mengalir. Beberapa contoh fasilitas umum yang bisa menjadi amal jariyah antara lain:
Membangun sekolah atau perpustakaan
Membangun rumah sakit atau klinik gratis
Menyediakan jalan atau jembatan untuk masyarakat
Selama fasilitas tersebut masih digunakan, pahalanya akan terus mengalir kepada orang yang berkontribusi dalam pembangunannya.
E. Wakaf untuk Kepentingan Umat
Wakaf adalah salah satu bentuk sedekah jariyah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Amal jariyah artinya salah satunya adalah dengan memberikan wakaf berupa tanah, bangunan, atau aset lainnya yang bisa digunakan untuk kepentingan umat.
Misalnya, seseorang mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid, sekolah, atau rumah sakit. Selama tanah tersebut digunakan untuk kebaikan, maka pahalanya akan terus mengalir kepada pemberi wakaf.
Dengan memahami amal jariyah artinya, kita bisa lebih termotivasi untuk melakukan kebaikan yang manfaatnya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga menjadi bekal pahala yang terus mengalir di akhirat. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa berlomba-lomba dalam melakukan amal jariyah.
ARTIKEL17/09/2025 | HUMAS BAZNAS JABAR
menelan ludah dan batasan puasa : prespektif islam yang jelas
Pernahkah sahabat membuang ludah saat berpuasa karena khawatir hal tersebut dapat membatalkan puasa? Ibadah puasa dapat batal jika seseorang dengan sengaja memasukan makanan dan minuman ke dalam tubuhnya. Lalu bagaimana dengan air ludah?
Menurut buku “Hukum Menelan Air Ludah bagi Orang yang Berpuasa”, karya Pengajar Pondok Pesantren Raudhatul Quran An-Nasimiyyah Semarang Ahmad Mundzir menyatakan bahwa para ulama sepakat untuk hukum menelan air ludah atau liur tidak membatalkan puasa.
Namun, hal ini hanya berlaku apabila air liur ini sering keluar karena sulit dihindari, dijelaskan dalam al-Majmu Syarah al-Muhadzdzab (Juz 6, halaman 341) karya Imam an-Nawawi. Dikatakan bahwa:
“Menelan air liur itu tidak membatalkan puasa sesuai kesepakatan para ulama. Hal ini berlaku jika orang yang berpuasa tersebut memang biasa mengeluarkan air liur. Sebab susahnya memproteksi air liur untuk masuk kembali.”
Hukum Menelan Air Ludah bagi orang yang Berpuasa
Seperti yang sudah dipaparkan diatas kebanyakan ulama sepakat air ludah atau air liur tidak membatalkan puasa, Berdasarkan paparan dari Imam an-Nawawi, mengenai hukum menelan air liur yang tidak membatalkan puasa jika memenuhi tiga syarat, yaitu:
Air liur yang tidak tercampur dengan zat lain: Artinya air liur yang tertelan adalah air liur yang tidak tercampur dengan zat atau cairan lain, seperti darah akibat luka pada gusi.
Air liur yang belum keluar dari bagian bibir luar: Dalam hal ini, air liur yang tertelan tidak boleh melewati batas bibir luas. Menelan ludah yang berada dalam rongga mulut tanpa keluar dari batas bibir luar tetap dianggap sah dan tidak membatalkan puasa.
Air liur yang dengan sengaja ditampung oleh seseorang hingga banyak terlebih dahulu baru kemudian ditelan. Namun, ada pendapat yang termasyur mengatakan bahwa perbuatan tersebut selagi tidak sengaja, maka tidak akan membatalkan puasanya.
Jadi menelan air ludah tidak akan membatalkan puasa seseorang, jika telah memenuhi ketiga syarat di atas dan selama perbuatan menelan ludah tersebut tidak disengaja
Ibadah puasa juga bisa mendapatkan ganajran yang lebih besar dengan diiringi bersedekah. Beersedekah di BAZNAS Jabar dapat dilakukan secara online melalui smartphone sehingga mempermudah sahabat untuk bersedekah dimanapun dan kapanpun
Sebagai Lembaga Pemerintah Nonstruktural yang mengelola dana ZIS, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Jawa Barat saat ini dipercaya publik berkat komitmen dan program-programnya dalam menghimpun dan menyalurkan Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS).
buka link baznasjabar.org/infak untuk bersedekah dengaan mudah. Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan, bisa menjadi amal jariyah yang senantiasa mengalir pahalanya, Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.
ARTIKEL10/09/2025 | HUMAS BAZNAS JABAR
Mengenal 12 rakaat shalat sunnah rawatib : kunci kebahagiaan spiritual
Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat fardhu (wajib). Ibadah ini menjadi bentuk penyempurna dari shalat lima waktu yang seringkali tidak dikerjakan dengan kekhusyukan penuh. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya shalat ini, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits
“Barang siapa yang shalat 12 rakaat dalam sehari semalam selain yang wajib, maka akan dibangunkan untuknya rumah di surga.” (HR Muslim)
Mengenal 12 Rakaat Shalat Sunnah Rawatib
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat setelah dzuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya, dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR Tirmidzi)
Adapun hukum shalat sunnah rawatib beserta jumlah rakaatnya, sebagai berikut:
12 Rakaat Shalat Sunnah Rawatib Muakkad
Hukum shalat sunnah rawatib muakkad adalah sunnah yang dianjurkan, hanya saja tingkatannya sedikit di bawah fardhu (wajib). Berikut shalat rawatib muakkad, yaitu:
2 rakaat sebelum shalat subuh
2 rakaat sebelum shalat dzuhur
2 rakaat sesudah shalat dzuhur
2 rakaat sesudah shalat maghrib
2 rakaat sesudah shalat isya
12 Rakaat Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakkad
Hukum shalat ini adalah ghairu muakkad artinya pelaksanaannya sunnah yang tidak begitu dikuatkan. Berikut beberapa shalat sunnah rawatib ghairu muakkad, yaitu:
2 rakaat sesudah shalat dzuhur
4 rakaat sebelum shalat ashar
2 rakaat sebelum shalat maghrib
2 rakaat sebelum shalat isya
Demikian penjelasan mengenai 12 rakaat shalat sunnah rawatib yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam tiap shalat fardhu. Semoga kita senantiasa selalu diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah kepada-Nya.
ARTIKEL23/07/2025 | Humas BAZNAS Jabar

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Jawa Barat.
Lihat Daftar Rekening →