Berita Terkini
BAZNAS Jabar Salurkan Bantuan Kebakaran kepada Enah Marlinah di Cilengkrang
KAB. BANDUNG — BAZNAS Provinsi Jawa Barat melalui Pimpinan Bidang Perencanaan, Keuangan dan Pelaporan menyalurkan bantuan kebakaran kepada Enah Marlinah, warga Kampung Pasir Tengah RT 005/RW 004, Desa Jatiendah, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Senin (14/9/2026). Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian BAZNAS Jabar kepada masyarakat yang terdampak musibah sekaligus upaya meringankan beban penerima manfaat dalam memenuhi kebutuhan pascakejadian.
Penyaluran bantuan tersebut dilakukan secara langsung dengan melibatkan unsur pemerintah desa setempat. Kehadiran BAZNAS Jabar di tengah masyarakat menjadi bagian dari komitmen lembaga dalam memastikan dana zakat yang dihimpun dapat memberikan manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang menghadapi kondisi darurat akibat musibah kebakaran.
Pimpinan BAZNAS Jabar Bidang Perencanaan, Keuangan dan Pelaporan, Dra. Hj. Ruri Badariyah Ramadanti, M.T., menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian dan amanah yang dititipkan masyarakat melalui BAZNAS. “Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban Ibu Enah dan keluarga setelah mengalami musibah kebakaran. BAZNAS Jawa Barat berupaya agar amanah dari para muzaki dapat hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang membutuhkan, terutama dalam kondisi sulit seperti ini,” ujar Ruri.
Ruri menambahkan, penanganan masyarakat yang terdampak musibah membutuhkan kepedulian dan sinergi berbagai pihak. Menurutnya, BAZNAS tidak hanya berorientasi pada penghimpunan zakat, tetapi juga memastikan dana yang dikelola dapat kembali memberikan manfaat sosial melalui program pendistribusian dan pendayagunaan. “Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak musibah merupakan bagian dari ikhtiar BAZNAS untuk menghadirkan kemaslahatan. Semoga bantuan ini dapat menjadi penguat bagi keluarga untuk kembali menata kehidupan setelah musibah yang terjadi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Jatiendah, Hj. Endang Sri Wiedyastutie, S.E., mengapresiasi perhatian BAZNAS Jawa Barat terhadap warganya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Jawa Barat yang telah memberikan perhatian dan bantuan kepada warga kami yang mengalami musibah kebakaran. Bantuan seperti ini sangat berarti bagi masyarakat, karena selain membantu meringankan beban, juga menunjukkan adanya kepedulian dan kebersamaan dalam menghadapi musibah,” ungkap Endang.
Bagi Enah Marlinah, bantuan yang diterimanya menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti di tengah kondisi sulit yang sedang dihadapi. “Saya mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Jawa Barat dan Pemerintah Desa Jatiendah yang telah memberikan bantuan dan perhatian kepada saya. Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami setelah mengalami musibah kebakaran. Semoga kebaikan dari BAZNAS dan para muzaki dibalas oleh Allah SWT,” tutur Enah.
Penyaluran bantuan kepada Enah Marlinah menjadi bagian dari ikhtiar BAZNAS Jawa Barat dalam memperkuat kehadiran zakat sebagai instrumen kepedulian sosial dan kemanusiaan. Melalui dukungan para muzaki dan sinergi dengan pemerintah serta masyarakat di tingkat daerah, BAZNAS Jabar terus berupaya menghadirkan manfaat zakat secara tepat sasaran, termasuk bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan akibat musibah dan kondisi darurat.
14/09/2026 | HUMAS BAZNAS Jabar
BAZNAS Jabar Salurkan Bantuan Kadedeuh untuk Korban Kebakaran SPBE Cimuning Bekasi
Bekasi (12/9) — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Jawa Barat kembali menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat terdampak musibah dengan menyalurkan bantuan kadedeuh bagi korban kebakaran Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Cimuning, Kota Bekasi. Bantuan tersebut disalurkan kepada seluruh kelompok korban, baik keluarga korban meninggal dunia maupun warga yang mengalami luka berat dan luka ringan. Bantuan kadedeuh yang diberikan mencapai Rp300 juta yang berasal dari Zakat ASN Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas kepada masyarakat yang terdampak musibah.
Penyaluran bantuan tersebut dilakukan sebagai bagian dari komitmen BAZNAS Jawa Barat untuk memastikan dana zakat yang dihimpun dari masyarakat dapat kembali memberikan manfaat secara langsung kepada mereka yang membutuhkan, terutama dalam situasi kedaruratan dan musibah. Bantuan kadedeuh diharapkan dapat membantu meringankan beban keluarga korban dalam menghadapi dampak sosial dan ekonomi yang timbul setelah peristiwa tersebut.
Kebakaran SPBE Cimuning terjadi pada Rabu malam, 1 April 2026 yang lalu, di kawasan Jalan Cinyosog, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi. Peristiwa yang disertai ledakan tersebut diduga berkaitan dengan kebocoran gas, sementara penyebab pastinya masih ditangani melalui proses penyelidikan oleh pihak berwenang.
Dahsyatnya kebakaran tidak hanya berdampak pada fasilitas SPBE, tetapi juga merembet ke kawasan permukiman di sekitarnya. Sejumlah rumah dan bangunan warga mengalami kerusakan, sementara puluhan orang terdampak dalam peristiwa tersebut. Data yang berkembang setelah kejadian juga menunjukkan adanya korban luka bakar yang harus menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. Pada perkembangan berikutnya, jumlah korban tercatat mencapai 22 orang, terdiri atas korban meninggal dunia dan korban luka.
Pimpinan BAZNAS Jawa Barat Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Zaki Hilmi, M.H., mengatakan bahwa penyaluran bantuan tersebut merupakan bentuk kehadiran BAZNAS Jawa Barat di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah. “Bantuan kadedeuh ini merupakan ikhtiar BAZNAS Jawa Barat untuk meringankan beban keluarga korban, baik yang kehilangan anggota keluarganya maupun mereka yang masih menjalani proses pemulihan akibat luka. Kami ingin memastikan bahwa amanah zakat yang dititipkan masyarakat dapat hadir dan dirasakan manfaatnya oleh mereka yang membutuhkan, terutama dalam kondisi seperti ini,” ujar Zaki.
Menurut Zaki, penyaluran bantuan tidak berhenti pada kelompok korban yang meninggal dunia, tetapi juga diberikan kepada korban yang mengalami luka berat maupun luka ringan. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya BAZNAS Jawa Barat untuk memberikan perhatian secara menyeluruh kepada masyarakat terdampak. “Musibah ini memberikan dampak yang tidak sederhana bagi keluarga korban. Karena itu, BAZNAS berupaya memberikan dukungan secara proporsional sesuai dengan kondisi dan kebutuhan korban, sebagai wujud kepedulian sekaligus solidaritas sosial dari para muzaki dan masyarakat Jawa Barat,” tambahnya.
Salah seorang penerima bantuan, Bu Isni, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang diberikan. Ia dan keluarganya turut mengalami dampak yang sangat berat dalam musibah tersebut. Bu Isni harus kehilangan suami serta dua orang anaknya. Dengan penuh haru, ia menyampaikan bahwa dukungan yang diberikan menjadi penguat bagi dirinya untuk menghadapi masa-masa sulit pascaperistiwa tersebut. “Saya mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Jawa Barat yang sudah datang dan memberikan bantuan kepada keluarga kami. Musibah ini sangat berat bagi saya, karena suami dan dua anak saya telah meninggal dunia akibat kejadian tersebut. Bantuan ini tentu tidak akan menggantikan kehilangan yang kami alami, tetapi sangat berarti untuk membantu saya melewati masa sulit ini. Semoga kebaikan dan kepedulian BAZNAS serta para muzaki dibalas oleh Allah SWT dengan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda,” ungkapnya.
Dengan tersalurkannya bantuan kadedeuh tersebut, BAZNAS Jawa Barat berharap dukungan yang diberikan dapat menjadi penguat bagi keluarga korban dalam melewati masa sulit sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pascamusibah. BAZNAS Jawa Barat juga menyampaikan doa agar para korban yang masih dalam proses pemulihan diberikan kesehatan dan kekuatan, sementara keluarga yang kehilangan anggota keluarga diberikan ketabahan.
Penyaluran bantuan bagi korban kebakaran SPBE Cimuning ini sekaligus menegaskan komitmen BAZNAS Jawa Barat untuk terus menghadirkan pengelolaan zakat yang amanah, responsif dan berorientasi pada kemaslahatan. Melalui zakat yang ditunaikan para muzaki, BAZNAS Jawa Barat berupaya menghadirkan manfaat tidak hanya melalui program pemberdayaan, tetapi juga melalui respons kemanusiaan ketika masyarakat menghadapi musibah dan kondisi darurat.
14/09/2026 | HUMAS BAZNAS Jabar
BAZNAS Jabar Perkuat Sinergi Kabupaten/Kota, Dorong Optimalisasi Potensi Zakat Jawa Barat
BANDUNG BARAT — Pimpinan BAZNAS Provinsi Jawa Barat bersama seluruh Pimpinan BAZNAS Kabupaten/Kota se-Jawa Barat mengikuti Pertemuan Silaturahmi Pimpinan BAZNAS Kabupaten dan Kota se-Jawa Barat, Jumat (11/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Pesantren Sains & Teknologi Darul Hikam, Jalan Dago Giri Lembang Kabupaten Bandung Barat, menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) di Jawa Barat.
Posisi Strategis BAZNAS di Setiap Daerah Jawa Barat
Ketua BAZNAS Jabar, Dr. H. Anang Jauharudin, M.M.Pd., dalam sambutan sekaligus laporannya sebagai tuan rumah menegaskan bahwa keberadaan BAZNAS di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota memiliki posisi strategis dalam memastikan pengelolaan zakat dapat berjalan secara terarah, terkoordinasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, kekuatan BAZNAS di Jawa Barat tidak hanya terletak pada masing-masing lembaga, tetapi juga pada kemampuan membangun orkestrasi dan kolaborasi antarlembaga. “Silaturahmi ini bukan sekadar pertemuan antarpimpinan, tetapi menjadi ruang untuk menyatukan visi, memperkuat koordinasi, serta membangun langkah bersama agar potensi zakat di Jawa Barat dapat dikelola semakin optimal dan memberikan kemaslahatan yang lebih luas bagi umat,” ungkap Anang.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pimpinan BAZNAS RI Pembina Wilayah Jawa Barat, Dr. H. Rizaludin Kurniawan, M.Si., CFRM, yang memberikan materi mengenai target dan optimalisasi penghimpunan zakat tahun 2026–2027. Sementara itu, Ketua BAZNAS RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., menekankan pentingnya penguatan posisi BAZNAS di setiap daerah sebagai bagian dari ekosistem pengelolaan zakat nasional. “BAZNAS di daerah harus menjadi lembaga yang semakin kuat, profesional, dan dipercaya masyarakat. Sinergi antara BAZNAS RI, BAZNAS provinsi, dan BAZNAS kabupaten/kota menjadi kunci agar potensi zakat dapat dihimpun dan dikelola secara lebih efektif,” ujar Sodik.
Potensi Zakat Rp30 Triliun dan Manfaatnya bagi Kesejahteraan Umat
Jawa Barat memiliki potensi zakat yang besar, yang dalam pembahasan kegiatan disebut mencapai sekitar Rp30 triliun. Namun, potensi tersebut hingga kini belum seluruhnya dapat dihimpun secara maksimal. Karena itu, optimalisasi penghimpunan menjadi salah satu agenda penting yang perlu dilakukan secara bersama-sama, baik melalui penguatan literasi zakat, peningkatan kepercayaan publik, pengembangan layanan digital, maupun perluasan kolaborasi dengan berbagai pihak. Anang menilai, potensi tersebut harus dipandang bukan semata-mata sebagai angka penghimpunan, melainkan sebagai peluang besar untuk menghadirkan manfaat sosial yang lebih luas. “Kalau potensi zakat dapat dihimpun dan dikelola secara optimal, maka dampaknya akan sangat besar bagi masyarakat Jawa Barat. Zakat dapat menjadi instrumen pemberdayaan yang membantu mengurangi beban masyarakat sekaligus membuka peluang agar mustahik dapat tumbuh menjadi lebih mandiri,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Sodik Mudjahid menyampaikan bahwa optimalisasi zakat membutuhkan konsolidasi dan inovasi seluruh jajaran BAZNAS. Menurutnya, peningkatan penghimpunan harus berjalan beriringan dengan penguatan tata kelola dan kualitas pendistribusian serta pendayagunaan. “Zakat harus dikelola dengan prinsip amanah, profesional, transparan, dan berdampak. Ketika masyarakat melihat bahwa zakat yang mereka tunaikan benar-benar memberikan manfaat, kepercayaan kepada lembaga zakat akan semakin tumbuh,” tuturnya.
Lebih jauh, Anang menegaskan bahwa pengelolaan ZIS yang optimal memiliki peran penting dalam mendorong kesejahteraan umat dan masyarakat Jawa Barat. Dana zakat dapat diarahkan untuk menjawab berbagai persoalan sosial melalui program pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dakwah, hingga pemberdayaan masyarakat. “Orientasi kita bukan hanya menghimpun sebanyak-banyaknya, tetapi memastikan setiap dana yang dipercayakan oleh muzaki memberikan dampak yang terukur dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi seluruh BAZNAS Kabupaten/Kota, insyaallah zakat dapat menjadi kekuatan bersama untuk menghadirkan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat,” ujar Anang.
Pertemuan yang dihadiri seluruh Pimpinan BAZNAS Provinsi Jawa Barat serta Pimpinan BAZNAS Kabupaten/Kota se-Jawa Barat tersebut ditutup dengan semangat memperkuat koordinasi dan kolaborasi pengelolaan ZIS. Melalui forum silaturahmi ini, BAZNAS Jawa Barat dan seluruh BAZNAS Kabupaten/Kota diharapkan semakin solid dalam mengoptimalkan potensi zakat, memperluas manfaat pendistribusian dan pendayagunaan, serta membangun kepercayaan masyarakat sehingga zakat benar-benar menjadi instrumen strategis dalam mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan umat di Jawa Barat.
11/09/2026 | HUMAS BAZNAS Jabar
Artikel Terbaru
Memperkuat Bekal di Dunia Profesional
Bahan Kelas Madrasah Amil BAZNAS Jawa Barat
Oleh : Nana Sudiana (Waka 4 BAZNAS Jabar)
Dunia pengelolaan zakat dan dinamika amil-nya kian hari kian dinamis. Ada beragam tantangan dan juga hambatan yang membuat setiap OPZ dan amilnya harus kreatif memecahkan masalah dan menemukan solusinya secara kreatif dan penuh kelincahan.
Banyaknya tantangan yang ada di jalan panjang filantropi Islam saat ini, menyisakan tanya serius bagi seorang amil : apakah terus bertahan atau menyerah dan menjauh. Bagi amil yang memilih tetap bertahan, tentu ia harus siap dengan segala konsekuensinya.
Tulisan dibawah ini mencoba menjelaskan secara singkat bagaimana seorang amil harus memiliki persiapan atau bekal agar ia sustain di dunia pengelolaan zakat. Dengan tetap sehat, bugar, sehat juga mental dan jiwanya serta terus bertumbuh dan meningkat kariernya.
Pendahuluan: Menjemput Kenaikan Kelas
Mobilitas vertikal di dunia profesional bukanlah sebuah kebetulan yang datang begitu saja bagaikan durian runtuh. Perjalanan menaiki tangga kesuksesan sosial, ekonomi, dan karier merupakan buah dari persiapan matang, disiplin baja, serta strategi yang terukur. Banyak orang bekerja keras selama puluhan tahun namun tetap berada di tempat yang sama karena mereka hanya mengandalkan keringat, bukan strategi.
Untuk melompat ke level yang lebih tinggi, seseorang memerlukan lebih dari sekadar kompetensi teknis harian. Dunia korporat dan bisnis modern—termasuk ekosistem filantropi Islam dan organisasi pengelola zakat—menuntut kombinasi harmonis antara keterampilan strategis, ketahanan mental, serta jaringan yang kuat. Tanpa bekal yang komprehensif, usaha keras dalam berkhidmat justru sering kali berujung pada kelelahan mental tanpa adanya eskalasi posisi atau kontribusi yang berarti.
Oleh karena itu, sebagai seorang amil yang mendedikasikan diri untuk kemaslahatan umat, memahami dan mempersiapkan berbagai aspek fundamental mobilitas vertikal adalah kunci utama. Mulai dari pengembangan modal manusia hingga ketahanan psikologis, setiap elemen saling mengunci satu sama lain. Mari kita bedah satu per satu pilar penting yang akan menjadi bekal paling berharga Anda di arena profesional amil.
Pilar I: Pengembangan Kompetensi (Human Capital)
Keahlian spesifik yang memiliki nilai ekonomi dan sosial yang tinggi (high-income & high-impact skills) adalah fondasi pertama yang wajib Anda miliki. Di tengah disrupsi teknologi dan persaingan global yang ketat, menjadi amil yang sekadar bekerja secara rutin tidak lagi cukup. Anda harus menguasai domain keahlian yang permintaannya melimpah di pasaran, namun pelakunya masih sangat langka, seperti manajemen pengumpulan dana strategis, tata kelola zakat berbasis data, hingga manajemen risiko kelembagaan.
Keahlian tersebut bisa berupa penguasaan analisis data muzaki tingkat lanjut, manajemen krisis kelembagaan, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk efisiensi pelayanan dhuafa. Ketika Anda menguasai hal-hal yang sulit direplikasi oleh orang lain, posisi tawar dan kontribusi strategis Anda di hadapan lembaga akan melonjak secara drastis. Inilah daya dorong utama yang menggerakkan roda mobilitas karier Anda ke atas dalam ekosistem filantropi.
Namun, memiliki kapasitas penghasilan atau pengelolaan dana besar belumlah cukup jika tidak disertai dengan kecerdasan finansial (financial literacy). Banyak profesional filantropi berurusan dengan dana umat yang masif namun kurang piawai dalam menerjemahkan prinsip efisiensi dan transparansi aset. Kemampuan membedakan antara liabilitas dan aset organisasi, serta kepiawaian mengelola portofolio program, menentukan apakah kenaikan skala lembaga Anda bersifat sementara atau permanen.
Selain angka dan data, kemampuan komunikasi strategis menjadi jembatan penentu kesuksesan seorang amil. Seringkali, program sosial terbaik gagal dieksekusi bukan karena kualitasnya buruk, melainkan karena cara menyampaikannya kepada muzaki dan stakeholder kurang persuasif. Kemampuan bernegosiasi, melobi mitra strategis, dan mempresentasikan gagasan di hadapan pemangku kepentingan tingkat atas adalah pembeda utama antara amil biasa dan calon pemimpin zakat masa depan.
Transformasi keahlian ini juga menuntut konsistensi dalam continuous learning atau pembelajaran seumur hidup. Ilmu tata kelola zakat dan filantropi yang relevan hari ini bisa jadi usang dalam beberapa tahun ke depan seiring perubahan regulasi dan ekspektasi publik. Oleh karena itu, membangun kebiasaan membaca literatur manajemen terkini, mengikuti sertifikasi profesional amil yang diakui industri, serta menguji teori langsung ke dalam praktik lapangan adalah cara terbaik untuk menjaga agar nilai pasar dan kompetensi amil senantiasa berada di tren naik.
Pilar II: Modal Sosial (Social Capital)
Tidak peduli seberapa brilian seorang amil, kesepian di puncak adalah nyata jika Anda berjalan sendirian dalam mengemban misi kemanusiaan. Jejaring lintas kelas (strategic networking) memegang peran krusial dalam memperluas cakrawala peluang kelembagaan. Anda perlu membangun hubungan dengan individu-individu yang sudah berada di posisi atau kelas sosial yang ingin Anda tuju, memahami pola pikir para muzaki besar, serta menyerap nilai-nilai profesional yang mereka pegang.
Dalam membangun jejaring ini, kehadiran seorang mentor dan sponsor menjadi pembeda yang signifikan bagi perjalanan karier amil. Mentor bertindak sebagai kompas yang memberikan panduan objektif, koreksi, serta nasihat berdasarkan pengalaman panjang mereka di dunia amil. Sementara itu, sponsor adalah figur berpengaruh di dalam organisasi atau jaringan nasional yang secara aktif bersedia menyebut dan merekomendasikan nama Anda ketika pintu peluang kepemimpinan di level atas terbuka.
Reputasi dan personal branding adalah mahkota dari modal sosial Anda sebagai amil. Di era digital dan transparansi informasi ini, integritas dan amanah adalah mata uang yang paling mahal. Dikenal sebagai sosok problem solver yang dapat diandalkan saat krisis kemanusiaan melanda akan membangun kredibilitas yang mendahului kedatangan Anda di setiap ruangan rapat strategis.
Perlu diingat bahwa modal sosial yang kokoh tidak dibangun atas dasar transaksi semata, melainkan fondasi kepercayaan dan kontribusi timbal balik yang tulus. Ketika Anda hadir di tengah jaringan muzaki dan mitra dengan niat untuk memberi nilai tambah pada pemberdayaan umat—bukan sekadar meminta dukungan dana—orang-orang berpengaruh akan dengan sukarela membuka pintu gerbang jejaring mereka yang paling eksklusif bagi misi kelembagaan Anda.
Pilar III: Modal Budaya (Cultural Capital)
Mobilitas vertikal di dunia profesional amil seringkali menuntut perpindahan dari satu lingkungan sosio-kultural ke lingkungan yang lebih tinggi, mulai dari berinteraksi dengan komunitas akar rumput hingga kalangan konglomerat dan pengambil kebijakan negara. Di sinilah adaptabilitas budaya atau cultural code-switching dibutuhkan. Ini bukan tentang menjadi orang lain atau mengkhianati akar identitas Anda sebagai pengabdi umat, melainkan kemampuan memahami etika, tata krama, wawasan, serta cara berinteraksi yang berlaku di lingkaran elit profesional manapun.
Keluasan wawasan juga menjadi tiket VIP bagi amil untuk duduk di meja perundingan strategis tingkat nasional maupun global. Para pengambil keputusan jarang mendiskusikan hal-hal teknis lapangan semata; mereka berbicara tentang tren makroekonomi, pencapaian SDGs, dinamika filantropi global, hingga arah kebijakan kesejahteraan sosial. Memiliki ketertarikan dan pemahaman terhadap isu-isu global membuat seorang amil tampak selaras dengan cara pandang para pemimpin puncak.
Ketika Anda mampu mengenakan "lensa" budaya yang tepat di berbagai situasi formal maupun informal, rasa canggung akan hilang. Anda akan dipandang bukan lagi sebagai amil lapangan yang kebetulan mampir ke ruang eksekutif, melainkan sebagai bagian sah dari ekosistem tingkat atas yang siap memegang kendali kepemimpinan filantropi modern.
Kapasitas kultural ini juga mencakup kepekaan terhadap literasi organisasi dan kecerdasan emosional dalam membaca dinamika tak tertulis (unwritten rules) di suatu instansi zakat atau korporasi mitra. Seringkali, kegagalan seorang profesional amil naik kelas bukan karena mereka kurang ikhlas atau kurang pintar, melainkan karena mereka gagal memahami etika kultural dan norma tidak tertulis yang dijunjung tinggi oleh para pengambil keputusan di level strategis.
Pilar IV: Ketahanan Mental (Psychological Capital)
Perjalanan menanjak dalam mengemban amanah umat tidak pernah berjalan mulus tanpa turbulensi. Di sinilah grit—kombinasi antara ketekunan jangka panjang dan ketahanan menghadapi tekanan operasional maupun sosial—diuji secara maksimal. Penolakan muzaki, dinamika muzaki-mustahik yang kompleks, kegagalan program pemberdayaan, hingga imposter syndrome (perasaan tidak kompeten meski sudah berprestasi di dunia amil) adalah tamu-tamu tak diundang yang pasti akan mampir ke dalam benak Anda.
Mentalitas baja akan membedakan siapa amil yang bertahan dan siapa yang menyerah di tengah jalan. Alih-alih meratapi kegagalan sebagai akhir dari segalanya, seorang profesional amil bermental tangguh akan memandangnya sebagai data mentah untuk evaluasi perbaikan program. Mereka merangkul growth mindset, sebuah keyakinan mendalam bahwa kapasitas diri, kapasitas kepemimpinan, dan keterampilan manajerial bukanlah sesuatu yang statis, melainkan otot yang bisa terus dilatih melalui kerja keras dan pembelajaran konsisten.
Dalam mengelola modal psikologis ini, manajemen energi mental dan pencegahan kejenuhan (burnout) dalam melayani umat menjadi sama pentingnya dengan kerja keras itu sendiri. Pemimpin amil yang hebat tahu kapan harus melangkah kencang dan kapan harus mengambil jeda untuk memulihkan kejernihan berpikir. Ketahanan sejati bukanlah tentang memikul beban umat tanpa batas, melainkan kemampuan bangkit kembali secara cerdas dan terukur setiap kali tekanan pengabdian menekan Anda ke titik nadir.
Kesimpulan: Menyatukan Seluruh Kepingan
Merajut mobilitas vertikal sebagai seorang amil di dunia profesional adalah sebuah seni meramu strategi jangka panjang yang konsisten di jalan pengabdian. Keterampilan teknis dan manajerial yang tajam membuka pintu pertama, modal sosial mengantar Anda melewati lorong-lorong kesempatan kemitraan, modal budaya memberi Anda legitimasi di lingkungan baru yang lebih luas, dan ketahanan mental memastikan Anda tidak tumbang saat badai amanah menerjang.
Mulailah berinvestasi pada keempat pilar ini sejak hari ini, bukan esok hari. Evaluasi di mana letak kelemahan Anda, perkuat fondasi yang masih rapuh, dan langkahkan kaki dengan penuh keyakinan. Dunia profesional filantropi yang kompetitif tidak menanti amil yang pasrah pada keadaan, melainkan menyambut para pengabdi yang datang dengan persiapan matang untuk naik kelas dan memberikan dampak yang lebih luas bagi kemaslahatan umat. [ ].
26/10/2026 | Nana Sudiana (Wakil Ketua IV BAZNAS Jabar)
Seni Ekuilibrium Seorang Amil: Antara Menjaga Amanah dan Urusan Rumah
Oleh : Nana Sudiana (Waka 4 BAZNAS Jawa Barat)
Bekerja yang benar itu bukan tentang saling membenturkan: gila kerja lalu mengabaikan keluarga, atau mengutamakan keluarga namun tak profesional dalam bekerja. Keduanya tak perlu dipertentangkan dan dicari mana yang lebih hebat atau lebih mulia untuk diutamakan. Sebaliknya, kedua peran itu harus diselaraskan dengan anggun agar menghadirkan ritme hidup yang harmonis, tenang, dan penuh keberkahan.
Di balik gerak cepat seorang amil dalam merangkai kebaikan, ada bentang kehidupan lain yang tak kalah suci: rumah tempat jiwa berlabuh. Tak jarang, seorang amil mendapati dirinya berdiri di persimpangan yang tajam—terjebak dalam dilema antara menunaikan panggilan profesi atau mendekap hangat keluarga.
Pernahkah sebagai seorang amil, Anda merasa terjebak dalam situasi mengejar karier dan amanah, tapi di saat yang sama harus tetap sepenuhnya ada untuk keluarga? Tenang saja, Anda tidak sendirian.
Menyeimbangkan karier dan kehidupan pribadi memang menjadi tantangan terberat bagi sebagian besar profesional, tak terkecuali para amil. Padahal, menyeimbangkan keduanya (work-life balance) sangatlah penting untuk menjaga kesehatan fisik, mental, serta keharmonisan hubungan di rumah. Dampaknya bisa sangat luar biasa jika diabaikan; terus-menerus mengorbankan salah satunya berisiko membuat kita kehilangan momen berharga bersama orang terkasih atau justru mengalami stagnasi di tempat kerja.
Mengabdi pada umat dan mencintai keluarga adalah dua kepakan sayap yang saling melengkapi. Keduanya bisa berjalan beriringan tanpa harus ada satu jiwa atau satu peran pun yang dikorbankan.
Pentingnya Menyeimbangkan Karier dan Keluarga
Work-life balance pada hakikatnya adalah seni menemukan titik keseimbangan (ekuilibrium) antara amanah pekerjaan dan hal-hal fundamental lainnya dalam hidup—seperti keluarga, sahabat, dan ruang untuk diri sendiri. Jika Anda merasa memiliki kendali dan waktu yang cukup untuk semua aspek ini, berarti Anda telah berhasil menjaga ritme hidup yang sehat dan penuh berkah.
Faktanya, survei global dari Tower Perrin menunjukkan bahwa lembaga atau perusahaan yang memiliki staf dengan tingkat keterlibatan dan keseimbangan hidup yang tinggi dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan operasional hingga 52% lebih baik. Sebaliknya, kurangnya keseimbangan akan memicu penurunan kinerja yang signifikan.
Mengapa ekuilibrium ini begitu penting bagi seorang amil? Berikut adalah beberapa dampak utamanya:
- Meningkatkan Kesehatan Fisik dan Mental: Seperti yang dijelaskan oleh WebMD, keseimbangan antara kerja dan kehidupan berdampak langsung pada kebugaran raga. Dengan work-life balance yang terjaga, risiko terkena penyakit kronis akibat kelelahan ekstrem akan menurun drastis.
- Mencegah Stres Berkepanjangan (Burnout): Jika keseimbangan ini terganggu, seseorang akan mudah lelah secara emosional, gampang gusar, dan rentan mengalami stres kronis. Secara fisik, tekanan pekerjaan berlebih (overwork) dapat memicu tekanan darah tinggi hingga insomnia parah.
- Mendongkrak Produktivitas Khidmat: Keseimbangan tidak membuat seorang amil menjadi pemalas, justru sebaliknya! Ketika pikiran dan raga mendapatkan ruang yang cukup untuk bersantai serta mengisi ulang energi, fokus dan kualitas pengabdian di kantor akan meningkat tajam.
- Menjaga Keharmonisan Hubungan di Rumah: Saat beban kerja terkelola dengan bijak, Anda dapat melangkah pulang ke rumah dengan suasana hati yang jernih. Hasilnya, ada energi emosional yang hangat dan utuh untuk disemaikan bersama keluarga tercinta.
- Menghindari Budaya Organisasi dan Kepemimpinan yang Toksik:
Kepemimpinan Mikromanajemen: Gaya kepemimpinan yang terlalu mengontrol memicu stres di lingkungan kerja dan menurunkan retensi psikologis pekerja.
Konflik di Tempat Kerja: Adanya intimidasi (bullying), pelecehan, atau konflik horizontal antar rekan kerja membuat karyawan sengaja absen demi menghindari lingkungan yang tidak nyaman tersebut.
Kunci Sukses Menyeimbangkan Keluarga dan Karier Amil
Kunci utama mencapai ekuilibrium ini adalah perencanaan yang matang, menentukan prioritas harian, serta manajemen waktu yang disiplin. Jika kepenatan mulai mengikis energi, berikut langkah-langkah jernih yang perlu dirajut bersama:
1. Memahat Jadwal dengan Disiplin
Langkah paling mendasar adalah menata waktu secara teliti. Goreskan agenda harian di kalender atau buku catatan, lalu urutkan berdasarkan skala prioritas. Kunci utamanya bukan sekadar menyusun kata, melainkan kedisiplinan hati untuk menepati setiap jeda yang telah ditetapkan.
2. Menjaga Kedalaman Waktu
Hindari membuang-buang detil waktu yang berharga, baik saat berada di selasar kantor maupun ketika tiba di ambang rumah. Saat di rumah, leburkan diri sepenuhnya bersama anak dan pasangan tanpa terganggu sisa tugas. Sebaliknya, saat di kantor, fokuslah menyelesaikan tugas secara efektif agar tidak ada jam kerja yang terbuang percuma.
3. Merawat Quality Time Bersama Keluarga
Di tengah gulatan kesibukan, luangkan ruang untuk merajut ingatan manis bersama. Kehadiran yang berkualitas tidak harus terikat kemewahan; memasak bersama di dapur, berolahraga di pagi hari, atau sekadar berbincang hangat dapat menjadi pengikat batin yang amat kokoh.
4. Tetap Menjalin Benang Kasih Meski Berjauhan
Jarak di jam kerja tidak boleh meluruhkan perhatian. Sempatkan menyapa buah hati atau pasangan di tengah sela jam istirahat siang, walau hanya melalui panggilan suara atau tatap layar singkat. Bisikan perhatian kecil adalah penawar rindu yang menegaskan bahwa mereka selalu menjadi prioritas.
5. Menyediakan Waktu Luang Mengisi Energi (Me-Time)
Cangkir yang kosong tak akan bisa mengalirkan air. Begitu pula amil; agar terhindar dari dahaga jiwa dan burnout, berikan waktu luang bagi diri sendiri (me-time) untuk mengisi ulang energi (_recharge_). Lakukan hobi yang menenangkan hati—membaca, menikmati alam, atau menyendiri sejenak. Namun, tetaplah bijak untuk tidak melampiaskan lelah pada kebiasaan yang merusak kesehatan tubuh.
6. Mengukir Waktu Khusus Bersama Pasangan
Di luar riuh tugas dan tawa anak-anak, ada ikatan suci bersama pasangan yang perlu terus dipupuk. Sediakan waktu khusus berdua untuk saling mendengar cerita hati. Dalam perbincangan itu, simpankan sejenak urusan kantor dan biarkan hanya kehangatan rumah tangga yang memenuhi udara
7. Menjaga Rumah Jiwa dengan Pola Hidup Sehat
Ketidakseimbangan prioritas yang dibiarkan akan merobohkan daya tahan raga. Ketika fisik menyerah pada sakit, maka amanah di kantor dan kehangatan di rumah sama-sama akan terbengkalai. Rawatlah tubuh dengan makanan bergizi, istirahat cukup, dan olahraga teratur agar nyala pengabdian tak gampang padam.
Komunikasi dan Ketulusan Berbagi Beban
Harmoni di dalam rumah dan tempat kerja tidak pernah ditanggung sendirian. Komunikasi yang terbuka dan jujur dengan pasangan, keluarga, serta rekan kerja maupun atasan sangat dibutuhkan untuk membagi beban tanggung jawab secara bijak.
Melibatkan pasangan dengan keterbukaan dalam mengurus rumah tangga akan memudahkan dan memantapkan langkah saat menjalani kedua peran tersebut. Dan jika suatu saat beban terasa terlampau berat, mencari sudut pandang profesional seperti psikolog adalah langkah bijak untuk menemukan kembali jalan keseimbangan yang jernih. [ ].
06/10/2026 | Nana Sudiana (Wakil Ketua IV BAZNAS Jabar)
Membaca Potensi dan Dinamika Pengelolan Zakat Kota Angin
Catatan Pengelolaan Zakat di Jawa Barat
Oleh : Nana Sudiana (Waka 4 BAZNAS Jawa Barat)
Suatu ketika saat menghadiri acara di BAZNAS Kabupaten Majalengka, saya ngobrol santai dengan Bupati Majalengka, Bapak Drs. H. Eman Suherman, M.M, beserta jajaran-nya, serta Pimpinan BAZNAS Kabupaten. Seusai acara, obrolan Saya berlanjut sambil ngopi bareng bersama Ketua BAZNAS Kabupaten Majalengka, H. Agus Asri Sabana, S.Ag., M.Si., C.Me., CPArb, di ruang tamu beliau di kantor BAZNAS Kabupaten Majalengka. Berikut ini sejumlah bagian obrolan yang coba saya tuliskan ulang dengan tambahan beberapa informasi pelengkap sebagai gambaran mengenai pengelolaan ZIS oleh BAZNAS di Kabupaten Majalengka.
Hikayat Majalengka dari Masa Ke Masa
Bila kita cermati, Kabupaten Majalengka adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di bagian timur Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya adalah Kecamatan Majalengka yang berjarak sekitar 89 km sebelah timur laut dari Kota Bandung dan 43 km sebelah barat daya dari Kota Cirebon.
Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Indramayu di utara, Kabupaten Cirebon dan Kuningan di timur, Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya di selatan, serta Kabupaten Sumedang di barat.
Secara topografi, Majalengka memiliki kombinasi dataran hingga wilayah pegunungan dan perbukitan—termasuk megahnya Gunung Ciremai—Majalengka tumbuh menjadi pusat wisata alam yang populer. Jumlah penduduk Majalengka terus berkembang, dari 1.180.774 jiwa pada tahun 2013 hingga mencapai 1.374.317 jiwa pada semester pertama tahun 2025.
Nama Majalengka sendiri memiliki akar sejarah dan legenda tersendiri yang berasal dari gabungan kata bahasa Cirebon, yaitu "maja" (buah maja) dan "langka" (langka atau tidak ada).
Berdasarkan legenda setempat, kisah ini bertaut dengan kepemimpinan Ratu Nyi Rambut Kasih di Kerajaan Sindangkasih. Ketika Pangeran Muhammad beserta rombongan penyebar agama Islam datang ke wilayah tersebut, pohon atau buah maja yang tadinya melimpah mendadak menjadi sangat jarang dan langka. Dari peristiwa "maja langka" itulah nama Majalengka lahir.
Sementara secara catatan sejarah administratif pemerintahan kolonial Belanda, wilayah ini awalnya bernama Kabupaten Maja. Pada 11 Februari 1840, ibu kota kabupaten dipindahkan ke Sindangkasih, dan para pembesar sepakat mengubah namanya menjadi Kabupaten Majalengka.
Jejak sejarah daerah ini terentang panjang. Pada zaman kerajaan Hindu-Buddha hingga abad ke-15, wilayah Kabupaten Majalengka terbagi menjadi empat kerajaan: Kerajaan Talaga Manggung yang dipimpin oleh Sunan Corenda (Sunan Parung), Kerajaan Rajagaluh di bawah Prabu Cakraningrat, Kerajaan Sindangkasih yang dipimpin oleh Nyi Rambut Kasih, serta Kerajaan Wanayasa yang dipimpin oleh Prabu Wirapati.
Berbagai cerita rakyat tentang kerajaan-kerajaan tersebut masih hidup di tengah masyarakat hingga saat ini. Keberadaannya bersanding erat dengan situs, makam keramat, dan benda purbakala yang menjadi kekayaan daerah sekaligus sumber sejarah yang berharga.
Selain kaya akan sejarah, Majalengka sering dijuluki sebagai Kota Angin karena karakteristik alamnya yang unik. Julukan ini lahir dari hembusan angin kencang dan khas yang oleh warga lokal dikenal sebagai angin ngagelebug.
Secara geografis, posisi Majalengka yang berada persis di kaki Gunung Ciremai serta diapit oleh perbedaan tekanan udara antara wilayah utara dan selatan menyebabkan hembusan angin bertiup lebih kuat pada waktu-waktu tertentu, termasuk saat munculnya fenomena angin fohn atau angin kumbang.
Di sisi lain, pada masa lalu Majalengka juga sempat dikenal dengan sebutan Kota Pensiun. Julukan ini melekat karena suasananya yang tenang, aman, dan kerap dijadikan tempat tinggal favorit untuk menghabiskan hari tua.
Majalengka terkini melengkapi diri dengan adanya Bandara Kertajati dan Bendungan Jatigede. Keberadaan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dan Bendungan Jatigede kini mengubah Kabupaten Majalengka menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat melalui sektor logistik, kedirgantaraan, pertanian, dan energi.
Dari sektor penerbangan, Bandara Kertajati dikembangkan menjadi kawasan kedirgantaraan (Aerospace Park) serta pusat perawatan pesawat atau Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO). Langkah strategis ini diperkuat dengan mulainya relokasi pabrik dan aktivitas PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ke kawasan bandara untuk perakitan hingga penyimpanan suku cadang pesawat.
Selain menjadi pusat penerbangan khusus umrah dan haji, kawasan ini disiapkan untuk mendukung armada militer dan komersial nasional, yang diproyeksikan mampu menyerap ribuan tenaga kerja baru bagi warga lokal.
Sementara itu, dari sektor pengairan, Bendungan Jatigede mengairi puluhan ribu hektare lahan pertanian di Majalengka melalui Daerah Irigasi Rentang.
Pasokan air yang stabil ini mampu mendorong swasembada pangan dengan meningkatkan hasil panen padi secara signifikan, mendongkrak kesejahteraan petani, serta menyuplai kebutuhan energi listrik wilayah sekitar dan kawasan penunjang industri melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede.
Majalengka bukan sekadar bentang alam dan jejak sejarah di bawah bayang-bayang Gunung Ciremai. Ia adalah hamparan cerita tentang tanah yang subur, angin bertiup konsisten membelai terasering Argapura, serta keringat para petani dan buruh harian yang mengalir menyirami harapan.
Di balik lanskapnya yang elok dan geliat industrinya yang kian cepat, Majalengka menyimpan potensi besar sekaligus dinamika sosial yang unik dalam pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS).
Potensi ZIS dan Dukungan Regulasi
Potensi pengelolaan zakat di Kabupaten Majalengka sangat besar dan terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun melalui kolaborasi strategis antara pemerintah daerah dan BAZNAS Kabupaten Majalengka. Dengan populasi lebih dari 1,35 juta jiwa, Majalengka memiliki basis massa yang kukuh sebagai tumpuan pengumpulan ZIS.
Bukti nyata pencapaian luar biasa ini terukir dalam penghimpunan ZIS BAZNAS Kabupaten Majalengka tahun 2025 yang menembus angka Rp 23.061.225.394. Zakat Profesi menjadi kontributor terbesar senilai Rp12.926.300.266, bersanding dengan pencatatan Zakat Fitrah sebesar Rp1,6 miliar pada awal tahun 2026.
Keberhasilan penyaluran dana ZIS yang telah terserap hingga Rp17.266.664.854 mencakup perpaduan dana Zakat Fitrah, Program Siap, Infak, Hibah, hingga SiLPA 2024.
Bahkan, jiwa kedermawanan warga Majalengka juga melintas batas daerah lewat donasi kebencanaan untuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh yang terhimpun puluhan juta rupiah.
Di luar ZIS reguler, potensi ekonomi umat terbentang sangat luas. Salah satunya adalah potensi dana kurban yang diperkirakan mencapai Rp73 miliar, bersanding harmonis dengan sektor potensial lain di bidang peternakan dan pertanian.
Di akar rumput, sektor pertanian di berbagai desa—seperti optimalisasi zakat ma'al pertanian di Desa Pilangsari—menunjukkan hasil nyata dalam menjangkau dan menyapa warga secara langsung.
Sementara itu, dari ruang-ruang pengabdian publik, zakat profesi yang bersumber dari ASN dan instansi pemerintah, termasuk Dinas Kesehatan, memberikan kontribusi angka partisipasi yang signifikan dan terus didorong untuk diperluas.
Ditambah lagi, kehadiran Kawasan Industri Segitiga Rebana dan Bandar Udara Internasional Kertajati membawa angin perubahan baru. Pertumbuhan sektor manufaktur dan jasa menghadirkan potensi zakat perusahaan serta muzakki anyar dari kalangan pekerja industri.
Ketua BAZNAS Kabupaten Majalengka, H. Agus Asri Sabana, S.Ag., M.Si., C.Me., menyampaikan bahwa keberhasilan penghimpunan dan penyaluran BAZNAS Kabupaten Majalengka didukung sepenuhnya oleh Bupati Majalengka. Beliau juga menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atas dukungan dan kolaborasi luar biasa bersama Pemkab Majalengka, di mana dalam tempo dua bulan tim perumus yang diketuai Asda I berhasil menyusun Peraturan Bupati (Perbup) mengenai Pembinaan dan Pengawasan Pengelolaan ZIS serta Dana Sosial Keagamaan Lainnya (DSKL). Perbup ini telah ditandatangani Bupati dan kini tinggal menunggu pengesahan Sekda.
Wajar kemudian BAZNAS Kabupaten Majalengka kembali mengusulkan Bupati Majalengka, H. Eman Suherman—yang tahun lalu telah dinobatkan sebagai Bapak Kepala Daerah yang Peduli Zakat Nasional—untuk diusulkan kembali di tahun ini.
Dalam perkembangan-nya, BAZNAS Kabupaten Majalengka juga gencar melakukan pembentukan UPZ. Sejumlah DKM Desa/Kelurahan lantas dibentuk UPZ sebagai tindak lanjut amanat Rakornas BAZNAS Kabupaten Majalengka sebelumnya. Langkah ini memosisikan UPZ Masjid desa sebagai ujung tombak yang paling memahami kondisi riil sosial, ekonomi, kesehatan, hingga kelaikan rumah warga.
Ketua BAZNAS Kabupaten Majalengka, Agus Asri Sabana menegaskan bahwa pelembagaan UPZ memastikan penghimpunan ZIS menjadi legal, syar'i, dan aman secara NKRI. Hal ini menegaskan komitmen bahwa dana ZIS bukan untuk membiayai terorisme, melainkan mengukuhkan keutuhan bangsa.
Dari sisi akuntabilitas, BAZNAS Kabupaten Majalengka menjamin penyaluran berbasis data dan sistem yang dipertanggungjawabkan melalui tiga lapis audit (Inspektorat, Kantor Akuntan Publik, dan Audit _Syar'i_) tanpa potongan satu rupiah pun. Penyaluran bantuan, seperti Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), dilakukan secara terukur sesuai survei tingkat kondisi mustahik.
Di sisi lain, penguatan sistem di tingkat daerah semakin kokoh lewat peran Kemenag Majalengka yang menaungi sekitar 9.000 karyawan PNS dan non-PNS di lingkungan Kemenag, madrasah, dan lembaga keagamaan.
Kemenag Majalengka mencatatkan prestasi membanggakan dengan pencapaian 100% zakat profesi di lingkungan satuan kerjanya melalui tata kelola yang profesional, akuntabel, dan taat azas. Seluruh dana 100% disetorkan ke BAZNAS, sementara perencanaan program dilakukan secara bersama-sama.
Penyaluran ZIS melalui Kemenag menjangkau bantuan siswa miskin madrasah, sarana keagamaan, pemberdayaan ekonomi, hingga insentif imam masjid dan guru ngaji.
Langkah ini sejalan dengan harapan Kepala Kemenag agar BAZNAS dan LAZ semakin profesional sebagai instrumen utama pembangunan keagamaan nasional.
Dinamika dan Pendayagunaan: Menjawab Tantangan, Menggerakkan Ekonomi Umat
Sinergi regulasi dan kelembagaan ini menjadi kunci dalam menjawab tantangan pengelolaan ZIS di Kota Angin yang tak selalu mulus.
Di masyarakat, tradisi menunaikan zakat secara langsung kepada kyai, ustaz, atau tetangga dekat (zak?t 'ainiyyah) masih sangat kuat. Hal senada juga terlihat pada zakat ma'al pertanian di desa-desa seperti Pilangsari yang dipengaruhi siklus musim, harga pasar, dan iklim.
Menjembatani tradisi luhur ini menuju pelembagaan terorganisir membutuhkan diplomasi kultural yang bijak—silih asah, silih asih, silih asuh.
Di saat yang sama, generasi muda dan masyarakat perkotaan serta kawasan industri baru—seperti Segitiga Rebana dan BIJB Kertajati—mulai menuntut kemudahan kanal digital serta laporan pendayagunaan yang cepat dan transparan.
Tantangan tersebut dijawab BAZNAS Majalengka bersama Pemerintah Daerah, Kementerian Agama, Dinas Sosial, dan perguruan tinggi melalui integrasi program pengentasan kemiskinan dan pembentukan Kampung Zakat.
Sebagaimana didorong oleh Bupati Majalengka H. Eman Suherman, BAZNAS Kabupaten Majalengka bertransformasi dari sekadar kegiatan karitatif menjadi benteng keimanan dan motor penggerak ekonomi umat.
BAZNAS Kabupaten Majalengka, ditantang untuk menghadirkan program solutif yang berani bersaing secara positif melawan maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal, praktik riba, dan "Bank Emok", sehingga mampu membebaskan masyarakat dari jeratan utang dan kemiskinan.
Melalui kerja nyata BAZNAS Kabupaten Majalengka, pemanfaatan dana ZIS kini ditopang oleh lima pilar utama yang menyentuh berbagai sendi kehidupan masyarakat.
Dalam pilar Majalengka Sehat, dana zakat hadir memberikan layanan kesehatan dan bantuan medis bagi masyarakat prasejahtera.
Lewat Majalengka Mandiri, BAZNAS Kabupaten Majalengka menggerakkan pemberdayaan ekonomi produktif melalui bantuan modal usaha bergulir, pengembangan balai ternak, serta penguatan petani gurem dan UMKM berbasis olahan hasil bumi.
Sektor pendidikan pun turut dijaga melalui Majalengka Cerdas guna menyiapkan masa depan generasi muda lewat program beasiswa unggulan seperti Satu Desa Satu Sarjana untuk membiayai kuliah para mahasiswa.
Tidak berhenti di situ, pilar Majalengka Taqwa memberikan apresiasi dan insentif bagi pilar-pilar keagamaan desa, seperti guru ngaji, imam masjid, hingga pemulasara jenazah di ratusan desa.
Akhirnya, pilar Majalengka Peduli hadir sebagai jaring pengaman sosial yang sigap memberikan santunan bagi anak yatim, lansia, korban bencana, hingga perbaikan Rutilahu di ceruk-ceruk desa.
Pengelolaan ZIS di Kabupaten Majalengka adalah seni merajut kebaikan: memadukan ketulusan tradisi perdesaan dengan ketegasan manajemen modern.
Ketika angin Ciremai bertiup membawa benih-benih kepedulian, dan tangan-tangan amil yang amanah menyambutnya dengan tulus, maka ZIS akan menjelma menjadi pilar ketahanan warga. Hal ini menjadikan Majalengka tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sejuk dan sejahtera dalam naungan keberkahan. [ ].
05/10/2026 | Nana Sudiana (Wakil Ketua IV BAZNAS Jabar)
