WhatsApp Icon

Berita Terkini

BAZNAS Jawa Barat Salurkan Program Berbagi Daging Hingga Pelosok di Cianjur, Tiga Ekor Domba Disembelih Langsung di Lokasi
BAZNAS Jawa Barat Salurkan Program Berbagi Daging Hingga Pelosok di Cianjur, Tiga Ekor Domba Disembelih Langsung di Lokasi
Cianjur – BAZNAS Provinsi Jawa Barat kembali menghadirkan manfaat zakat melalui Program Berbagi Daging Hingga Pelosok yang bersumber dari zakat para pengguna aplikasi BRImo. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin, 10 Agustus 2026, bertempat di Yayasan Rumah Pulih Jiwa (YRPJ), Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Program ini menjadi bagian dari upaya BAZNAS Jawa Barat untuk memastikan manfaat zakat dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang berada di wilayah pelosok. Dalam kegiatan tersebut, BAZNAS Jawa Barat menyalurkan bantuan berupa tiga ekor domba kepada masyarakat penerima manfaat. Berbeda dengan penyaluran daging pada umumnya, bantuan kali ini diberikan dalam bentuk hewan hidup yang kemudian disembelih secara langsung di lokasi pelaksanaan. Mekanisme tersebut sekaligus memungkinkan masyarakat penerima manfaat bersama-sama menyaksikan dan mengikuti proses penyembelihan hingga pengolahan daging sebelum dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan. Pimpinan BAZNAS Jawa Barat Bidang Perencanaan, Keuangan dan Pelaporan, Dra. Hj. Ruri Badariyah Ramadanti, M.T., menyampaikan bahwa program tersebut merupakan bentuk nyata dari amanah masyarakat yang menunaikan zakat melalui kanal digital. “Setiap zakat yang ditunaikan oleh para muzaki merupakan amanah yang harus kami kelola dan salurkan dengan sebaik-baiknya. Melalui Program Berbagi Daging Hingga Pelosok, kami berharap manfaat dari zakat yang dihimpun melalui BRImo dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan menghadirkan kebahagiaan bagi para penerima manfaat,” ujarnya. Menurut Ruri, penyaluran zakat tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sesaat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian dan solidaritas sosial. Kehadiran BAZNAS di tengah masyarakat, khususnya di wilayah yang membutuhkan perhatian, diharapkan dapat mempererat hubungan antara muzaki, lembaga pengelola zakat, dan mustahik. Dengan demikian, zakat dapat terus menjadi salah satu instrumen yang memberikan manfaat sosial secara luas. Ketua Yayasan Rumah Pulih Jiwa (YRPJ) Ciranjang, Rukman Samsudin, menyampaikan apresiasi atas kehadiran BAZNAS Jawa Barat di lingkungan yayasan. “Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan dan kepedulian BAZNAS Jawa Barat yang telah hadir dan berbagi bersama masyarakat di sini. Bantuan ini tentu sangat berarti dan mudah-mudahan dapat memberikan manfaat bagi penerima serta menjadi keberkahan bagi para muzaki yang telah menitipkan amanahnya melalui BAZNAS,” ungkapnya. Rasa syukur juga disampaikan oleh Abah Asep, salah seorang penerima manfaat. Ia mengaku senang dapat menerima bantuan sekaligus menyaksikan proses penyembelihan domba secara langsung. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur mendapatkan bantuan ini. Terima kasih kepada BAZNAS Jawa Barat dan para muzaki yang sudah berbagi. Semoga kebaikan ini terus berlanjut dan membawa keberkahan bagi semua yang terlibat,” tuturnya. Melalui Program Berbagi Daging Hingga Pelosok, BAZNAS Provinsi Jawa Barat terus berkomitmen mengoptimalkan pengelolaan zakat agar manfaatnya dapat menjangkau masyarakat di berbagai wilayah. Dukungan masyarakat melalui kemudahan pembayaran zakat menggunakan aplikasi BRImo menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan manfaat tersebut. BAZNAS Jawa Barat berharap sinergi ini dapat terus berkembang sehingga semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat dan kebahagiaan dari zakat yang ditunaikan secara amanah, profesional, dan tepat sasaran.
10/08/2026 | HUMAS BAZNAS Jabar
BAZNAS Jawa Barat Salurkan Program Berbagi Daging Hingga Pelosok dari Zakat Pengguna BRImo untuk Masyarakat Desa Ciririp Purwakarta
BAZNAS Jawa Barat Salurkan Program Berbagi Daging Hingga Pelosok dari Zakat Pengguna BRImo untuk Masyarakat Desa Ciririp Purwakarta
Purwakarta – BAZNAS Provinsi Jawa Barat kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan manfaat zakat hingga ke wilayah pelosok melalui Program Berbagi Daging Hingga Pelosok yang bersumber dari zakat para pengguna aplikasi BRImo. Program tersebut dilaksanakan pada Jumat (31/7/2026) di Desa Ciririp, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, sebagai bagian dari ikhtiar memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi sekaligus memperkuat nilai kepedulian sosial melalui pengelolaan zakat yang amanah dan tepat sasaran. Kegiatan penyaluran dipimpin langsung oleh Pimpinan BAZNAS Provinsi Jawa Barat Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Zaki Hilmi, M.H., serta dihadiri oleh Ketua BAZNAS Kabupaten Purwakarta, Hj. Rika Ristiawati, M.E., Pemerintah Desa Ciririp, tokoh masyarakat, relawan, dan warga penerima manfaat. Melalui sinergi antara BAZNAS Provinsi Jawa Barat dan BAZNAS Kabupaten Purwakarta, proses distribusi bantuan berjalan tertib dengan tetap mengedepankan prinsip pemerataan dan ketepatan sasaran. Program Berbagi Daging Hingga Pelosok merupakan salah satu bentuk optimalisasi pemanfaatan dana zakat yang ditunaikan masyarakat melalui kanal digital BRImo. Kehadiran program ini diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, khususnya keluarga prasejahtera di wilayah pedesaan, sekaligus memperkuat semangat gotong royong dan solidaritas sosial. Selain menghadirkan manfaat secara langsung, program ini juga menjadi bukti bahwa kemudahan berzakat melalui layanan digital dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata yang dirasakan oleh masyarakat hingga ke pelosok daerah. Dalam sambutannya, Zaki Hilmi, M.H., menyampaikan bahwa setiap amanah zakat yang dititipkan oleh para muzaki harus dikelola secara profesional dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. "Program Berbagi Daging Hingga Pelosok merupakan bentuk komitmen BAZNAS dalam memastikan bahwa zakat yang ditunaikan masyarakat, termasuk melalui aplikasi BRImo, benar-benar hadir di tengah mereka yang membutuhkan. Kami ingin manfaat zakat tidak hanya dirasakan di perkotaan, tetapi juga menjangkau masyarakat di pelosok desa sebagai bagian dari upaya memperkuat kesejahteraan umat," ujarnya. Sementara itu, Kepala Desa Ciririp, H. Mahdum, menyampaikan apresiasi atas kehadiran BAZNAS Jawa Barat yang telah memilih Desa Ciririp sebagai lokasi pelaksanaan program. Menurutnya, bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti bagi masyarakat. "Kami mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Jawa Barat, BAZNAS Kabupaten Purwakarta, dan seluruh muzaki yang telah berbagi melalui program ini. Bantuan yang diberikan tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga memberikan semangat bahwa masih banyak pihak yang peduli terhadap warga di daerah kami," tuturnya. Rasa syukur juga disampaikan oleh salah seorang penerima manfaat, Mak Nunung, yang mengaku sangat terbantu dengan adanya program tersebut. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat Desa Ciririp. "Alhamdulillah, kami sangat bersyukur menerima bantuan ini. Daging seperti ini tidak setiap hari bisa kami nikmati. Terima kasih kepada BAZNAS Jawa Barat dan para donatur yang telah berbagi rezeki kepada kami. Semoga Allah membalas semua kebaikannya dengan keberkahan yang berlipat," ungkapnya. Melalui pelaksanaan Program Berbagi Daging Hingga Pelosok, BAZNAS Provinsi Jawa Barat kembali menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan layanan pendistribusian zakat yang amanah, profesional, transparan, dan berdampak. Dengan dukungan masyarakat yang menunaikan zakat melalui berbagai kanal, termasuk aplikasi BRImo, diharapkan semakin banyak manfaat yang dapat dirasakan oleh mustahik di berbagai pelosok Jawa Barat, sehingga zakat benar-benar menjadi instrumen pemberdayaan dan penguatan kesejahteraan umat.
03/08/2026 | HUMAS BAZNAS Jabar
BAZNAS Jawa Barat Salurkan Amanah Zakat Pengguna BRImo, Hadirkan Kebahagiaan bagi 80 Mustahik melalui Program Berbagi Daging Hingga Pelosok di Karawang
BAZNAS Jawa Barat Salurkan Amanah Zakat Pengguna BRImo, Hadirkan Kebahagiaan bagi 80 Mustahik melalui Program Berbagi Daging Hingga Pelosok di Karawang
Karawang – Komitmen menghadirkan manfaat zakat hingga ke pelosok daerah terus diwujudkan oleh BAZNAS Provinsi Jawa Barat melalui Program Berbagi Daging Hingga Pelosok. Pada Kamis, 23 Juli 2026, BAZNAS Jawa Barat menyalurkan amanah zakat dari para pengguna aplikasi BRImo kepada masyarakat di Dusun Gambarsari RT 08/RW 03, Desa Kalangsurya, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Program ini menjadi salah satu bentuk optimalisasi pengelolaan zakat digital yang mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan, khususnya di wilayah dengan akses terhadap pangan bergizi yang masih terbatas. Dalam pelaksanaannya, BAZNAS Provinsi Jawa Barat menyalurkan bantuan berupa tiga ekor domba yang disembelih sesuai syariat Islam. Daging kurban tersebut kemudian dipotong, ditimbang, dikemas, dan didistribusikan kepada 80 mustahik yang telah didata dan diverifikasi bersama Pemerintah Desa Kalangsurya. Proses verifikasi dilakukan untuk memastikan bantuan diterima oleh masyarakat yang benar-benar berhak sehingga penyaluran zakat berlangsung secara tepat sasaran, amanah, dan memberikan manfaat yang optimal. Kegiatan penyaluran dihadiri oleh Pimpinan BAZNAS Provinsi Jawa Barat Bidang Pengumpulan, tim pendistribusian BAZNAS Provinsi Jawa Barat, perangkat Desa Kalangsurya, tokoh masyarakat, relawan, serta para penerima manfaat. Sebelum proses distribusi dilakukan, BAZNAS berkoordinasi dengan pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat efektivitas penyaluran dana zakat kepada para mustahik. Pimpinan BAZNAS Provinsi Jawa Barat Bidang Pengumpulan, Dr. H. Ijang Faisal, S.Ag., M.Si., menyampaikan bahwa Program Berbagi Daging Hingga Pelosok merupakan wujud nyata bagaimana zakat yang ditunaikan secara digital mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Menurutnya, kemudahan layanan pembayaran zakat melalui aplikasi BRImo menjadi salah satu ikhtiar untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam berbagi sekaligus memperkuat pemerataan manfaat zakat hingga ke daerah-daerah yang membutuhkan. "Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pengguna aplikasi BRImo yang telah mempercayakan zakatnya melalui BAZNAS. Amanah yang dititipkan hari ini telah menghadirkan kebahagiaan bagi 80 mustahik di Desa Kalangsurya. Ini menjadi bukti bahwa zakat yang dibayarkan melalui layanan digital tidak hanya memberikan kemudahan bagi muzaki, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Semoga sinergi ini terus berkembang sehingga semakin banyak saudara-saudara kita yang merasakan keberkahan zakat," ujar Ijang Faisal. Rasa syukur juga disampaikan oleh salah seorang penerima manfaat, Ibu Nurhayati, yang mengaku sangat terbantu dengan adanya Program Berbagi Daging Hingga Pelosok. Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan keluarganya, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan karena masih banyak pihak yang peduli terhadap masyarakat di wilayah pelosok. "Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada BAZNAS Jawa Barat serta para muzaki yang telah berbagi rezeki melalui program ini. Bantuan daging ini sangat berarti bagi keluarga kami. Semoga Allah membalas segala kebaikan para donatur dengan keberkahan dan rezeki yang berlipat," tuturnya. Seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari penyembelihan hingga pendistribusian daging, berlangsung dengan tertib, aman, dan lancar berkat dukungan perangkat desa, tokoh masyarakat, serta para relawan yang terlibat. Kehadiran mereka memastikan setiap paket daging diterima secara merata oleh masyarakat yang telah terdata sebagai penerima manfaat. Suasana kebersamaan dan gotong royong yang tercipta menjadi cerminan semangat zakat sebagai instrumen penguat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Melalui Program Berbagi Daging Hingga Pelosok, BAZNAS Provinsi Jawa Barat kembali menegaskan komitmennya dalam mengelola dan menyalurkan dana zakat secara amanah, profesional, transparan, dan tepat sasaran. Sinergi layanan pembayaran zakat melalui aplikasi BRImo diharapkan semakin memudahkan masyarakat dalam menunaikan zakat, sehingga manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak mustahik di berbagai pelosok Jawa Barat serta menghadirkan dampak sosial yang semakin luas bagi kesejahteraan umat.
25/07/2026 | HUMAS BAZNAS Jabar

Artikel Terbaru

OPZ dan Ilusi Lini Masa
OPZ dan Ilusi Lini Masa
Ada ironi yang teramat pedih dalam panggung siasat modern: "ketika argumen keberhasilan tak sanggup menjadi fakta, orang-orang bergegas merias ilusi menjadi bahan berita". Kita pernah menyaksikannya di Portugal pada Januari 2021. André Ventura melontarkan cemoohan pada Marisa Matias hanya karena seulas lipstik merah menyala. Riasan itu dituding tak profesional dan tak pantas di ruang politik. Ventura percaya bahwa dengan mengerdilkan tampilan, ia telah memenangkan perdebatan. Namun, sejarah punya cara memantulkan kembali kekerdilan itu. Ribuan perempuan bergerak membalas. Tagar #VermelhoEmBelem (Merah di Belém) membakar jagat siber. Kata "Belém" merujuk pada Belém Palace (Istana Kepresidenan Portugal) yang menjadi tujuan pencalonan presiden tersebut. Foto-foto berlatar gincu merah membanjiri lini masa, seolah perlawanan menuju istana kepresidenan itu telah menang mutlak di panggung digital. Namun, layar telepon pintar kerap menyajikan ilusi yang melampaui kenyataan. Ketika bilik suara dibuka, Marisa Matias hanya mengantongi kurang dari empat persen suara. Sebaliknya, Ventura justru melesat hingga hampir dua belas persen. Dunia digital memenangkan percakapan, tetapi dunia nyata memilih cerita yang sama sekali berbeda. Algoritma membuat ribuan orang merasa sedang mengubah dunia, padahal yang berubah hanyalah warna foto profil dan angka tagar. Simbol perlawanan itu perlahan terkooptasi menjadi tren pasif, bahkan dilahap kapitalisme menjadi komoditas dagangan kosmetik. Di titik itulah, cermin retak dari Lisbon diam-diam terpantul ke wajah Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) hari ini. Jebakan Lini Masa Di tengah riuk gelombang digitalisasi, OPZ kerap berdiri di persimpangan yang mirip. Ada godaan besar untuk menjadikan lembaga sekadar panggung "lipstik merah" — mengejar kecantikan visual, estetika unggahan, dan jutaan jangkauan di media sosial. Kadang, sejumlah OPZ suka "kebablasan" mengejar predikat paling hebat, paling populer, paling bisa dijadikan contoh, dan bahkan paling gaul di panggung publik. Beberapa di antaranya terlihat memaksakan pimpinannya untuk tampil menonjol. Mulai dari sering wara-wiri menghadiri konferensi di luar negeri, memamerkan kehebatan akademik seperti jenjang studi doktoral, penelitian jurnal terindeks Scopus, hingga aktivitas kelas S3. Ada lagi yang lebih _absurd_: menayangkan segudang jadwal aktivitas harian pimpinannya secara maraton—mulai dari mengisi acara, seminar, diskusi, hingga pelatihan di lini masa. Panggung personal branding sang pemimpin mendadak lebih bising daripada wacana transformasi hidup para mustahik yang diurusnya. Tak berhenti di sana, sejumlah OPZ pun gagal paham memaknai keberhasilan pemberdayaan mustahik. Energi dan sumber daya sejumlah OPZ sering kali dihabiskan saat agenda launching atau peresmian acara. Mereka menghadirkan banyak tokoh dan pejabat, mengundang puluhan media, hingga menggandeng influencer agar mengabarkan program yang hari itu diresmikan. Namun, mereka kerap lupa menyiapkan pendamping program yang baik, kurikulum pendampingan yang efektif dan sesuai kebutuhan, serta roadmap yang detail dan presisi dengan dukungan sumber daya serta dana yang memadai. Banyak OPZ mengejar kemegahan saat peresmian, namun entah bagaimana nasibnya setelah itu. Dan konyolnya, mereka terkejut serta merasa gagal ketika akhirnya melakukan evaluasi di akhir periode. Mengapa programnya tidak berhasil? Fenomena ini seakan mengonfirmasi pesan mendalam dari seorang aktivis senior: "Barang siapa yang gagal merencanakan, sesungguhnya ia sedang merencanakan untuk gagal." Feed Instagram yang rapi, video emosional dengan lagu tren, serta klaim angka berkilau sering dianggap bukti sah keberhasilan. Lembaga zakat perlahan terancam bergeser dari penggerak perubahan riil menjadi sekadar produsen konten dan panggung personalitas. Kemiskinan dan ketimpangan sosial berisiko ditangkap bukan sebagai krisis yang harus dibongkar hingga ke akarnya, melainkan sebagai bahan mentah demi meraup likes, shares, dan popularitas personal. Padahal, sebagaimana kemiskinan yang tidak bisa dikenyangkan oleh riuhnya tagar, transformasi hidup seorang mustahik tidak pernah selesai oleh indahnya infografis ataupun menterengnya gelar pimpinan. Ada jurang menganga antara kecepatan jempol membagikan konten dengan kelambatan proses pemberdayaan masyarakat di lapangan. Mengubah seorang yang terbelenggu utang menjadi mandiri, mendampingi petani miskin menembus tengkulak, atau membina anak-anak stunting di pelosok membutuhkan napas panjang. Itu adalah kerja-kerja sunyi yang kerap tak seksi untuk dijadikan video lima belas detik. Ketika OPZ terjebak dalam kompetisi penampilan dan ego kepemimpinan, ia sedang membiarkan dirinya ditelan oleh logika kapitalisme digital yang dangkal: tempat di mana impresi dianggap lebih penting daripada substansi. Tentu, ini bukan panggilan untuk menolak media sosial dan bersembunyi di dalam gua. Media sosial tetaplah ruang publik modern yang harus diisi untuk menyampaikan syiar dan akuntabilitas. Namun, media sosial seharusnya berfungsi sebagai jendela yang jujur, bukan benteng yang menyembunyikan kerapuhan realitas di balik citra pimpinannya. Keberanian OPZ yang sejati—sebagaimana keberanian memilih "lipstik merah" dalam arti sesungguhnya—bukanlah keberanian untuk terlihat paling keren di layar gawai. Keberanian sejati adalah ketangguhan para amil untuk tetap memilih jalan yang sulit: memegang teguh prinsip transparansi, menembus wilayah tak tersentuh sinyal, serta mengukur keberhasilan dari tegaknya kemandirian dan martabat manusia. Pada akhirnya, sejarah pengentasan kemiskinan tidak akan pernah diubah oleh warna kemasan, deretan sertifikat, atau mahirnya bersolek di lini masa. Sejarah senantiasa diubah oleh orang-orang yang menolak sekadar ikut arus. Mereka bersedia menanggung risiko dan peluh di dunia nyata demi membela pikiran serta nilai yang diyakini. OPZ harus berani menentukan pilihan perannya hari ini: apakah ingin terus terbuai menjadi pemenang dalam riuhnya narasi maya yang rapuh, atau memilih menjadi penjelajah sunyi yang jejak langkahnya benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan di garis depan realitas. [ ].
03/08/2026 | Nana Sudiana (Wakil Ketua IV BAZNAS Jabar)
Amil dan Ujian Rumah Tangga
Amil dan Ujian Rumah Tangga
Serial Ke-17 Madrasah Amil BAZNAS Jawa Barat Tugas suci seorang amil zakat adalah mengelola dana umat dengan penuh amanah, kejujuran, dan ketakwaan. Tugas utama mereka mencakup pengumpulan, pencatatan, pemeliharaan, serta pendistribusian harta zakat agar tepat sasaran kepada para mustahik yang berhak. Dalam kancah pengoperasian zakat, amil bertugas menghimpun dana dari para muzaki sesuai ketentuan syariat, mencatat setiap transaksi secara teliti dan transparan, hingga menjaga amanah dengan memastikan keamanan harta titipan serta memisahkannya secara tegas dari dana operasional. Namun di balik perannya sebagai penjaga harta umat, seorang amil tetaplah manusia biasa yang berlayar dalam bahtera rumah tangga. Pernikahan tak pernah benar-benar selesai pada hari janji suci diucapkan. Bagi seorang amil di Lembaga Amil Zakat (LAZ) maupun BAZNAS, rumah tangga adalah jalan panjang dengan etape yang terus bergeser—tempat dua jiwa bertaruh pada sang waktu, kesetiaan, dan keikhlasan isi dada di tengah padatnya denyut pengabdian. Di setiap helai kalender yang tanggal, lintasan hidup selalu menyajikan kejutannya sendiri yang tak terduga, menagih kadar kesabaran serta kualitas komunikasi yang selalu berbeda. Penulis Robert Stevenson pernah bergumam bahwa pernikahan sejatinya adalah satu percakapan yang sangat panjang, yang di dalamnya tak terelakkan akan mengalami masa-masa krisis. Al-Qur'an pun menegaskan bahwa kehidupan berpasangan dan berumah tangga tak lepas dari sunnatullah berupa ujian dan cobaan. Allah SWT berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155) Cepat atau lambat, setiap pasangan amil pasti akan berhadapan dengan badainya masing-masing. Benturan adalah bagian tak terpisahkan dari cara dua jiwa untuk bertumbuh di tengah tuntutan integritas dan akuntabilitas profesionalisme amil. Namun krisis bukanlah pertanda akhir, melainkan gerbang menuju tingkat kedewasaan yang baru. Ketika badai berhasil dilalui, pasangan tidak sekadar bertahan, tetapi menemukan cara-cara baru untuk saling membahagiakan, melampaui batas-batas cemas yang pernah mengancam. Pada tahap awal—terutama di tahun pertama yang sering disebut sebagai fase realisasi—pesona jatuh cinta yang mulanya membumbung perlahan menjejak bumi. Di antara ritme kerja amil yang padat, tangis bayi di tengah malam, kelelahan fisik seusai tugas lapangan, dan hitungan keuangan dapur yang harus ditata ketat, pasangan amil mulai melihat satu sama lain sebagaimana adanya. Lengkap dengan segala cela, kebiasaan kecil yang mengganggu, serta tuntutan untuk belajar bekerja sebagai satu tim yang saling menopang. Memasuki tahun ketiga hingga kelima, bahaya justru datang dari zona nyaman yang melunakkan kepekaan sekaligus benturan ego pribadi yang masih sama-sama tinggi. Amil yang kerap disibukkan dengan urusan muzakki dan mustahik rentan membawa kelelahan pulang ke rumah. Pasangan mulai menganggap kebersamaan sebagai hal yang biasa, lupa mengutarakan rasa cinta, dan membiarkan kebosanan mengendap halus di sudut-sudut rumah. Di fase ini, perbedaan pandangan tentang pola asuh anak kerap beradu dengan gengsi yang enggan saling mengalah. Ujian itu kerap menjelma dalam bentuk benturan riil antara beban tugas dan realita dapur rumah tangga. Setiap hari sang amil sibuk menghitung, membagikan, dan memastikan rupiah demi rupiah hak para fakir miskin tersampaikan secara akurat dan jujur. Namun di rumahnya sendiri, dapur kerap kali sunyi—beras kadang tinggal segenggam, dan anak-anaknya menahan lapar tanpa sedikit pun sang amil berani mencicipi atau mengambil bagian harta zakat yang bukan haknya. Di titik ini, sang istri yang lelah kerap terdesak oleh kesederhanaan ekstrem. Prasangka kerap singgah di dada, mengira suaminya memegang gulungan uang dari lembaga amil, namun tak mampu mencukupi kebutuhan rumah. Ujian makin pekat ketika fitnah dan sangkaan miring berembus dari tetangga sekitar yang tak paham, menganggap sang amil menyembunyikan kekayaan, padahal ia bekerja murni atas dasar pengabdian dengan bisyarah yang sangat bersahaja. Di tengah guncangan ekonomi dan prasangka keluarga, sang amil berjuang menjaga pintu qana'ah. Dengan ketenangan dan tutur kata yang lembut, ia terus merangkul istrinya, mengingatkan bahwa rezeki telah tertulis dengan pasti dan kehormatan seorang penjaga harta zakat tak boleh digadaikan oleh niat yang menyimpang. Perlahan, ketulusan dan keteguhan iman sang amil melunakkan hati sang istri. Kesabaran mereka akhirnya membukakan jalan kemudahan dari arah yang tak disangka-sangka, menghadirkan ketenangan yang hakiki di bawah naungan ridha Allah. Menjelang tahun ketujuh, psikologi mengenal istilah seven-year itch—sebuah fase gatal tempat rutinitas berisiko memadamkan gejolak dan daya tarik emosional maupun fisik. Rasulullah SAW mengingatkan agar seorang suami tidak tergesa-gesa membenci istrinya hanya karena melihat satu kekurangan, melainkan hendaknya melihat kebaikan-kebaikan lain yang ada padanya. Beliau bersabda: "Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu perangainya, niscaya ia akan ridha dengan perangainya yang lain." (HR. Muslim) Ketika merasa sudah saling tahu segalanya di tengah himpitan rutinitas kerja Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), komunikasi yang jujur dan keterbukaan tentang masa depan menjadi satu-satunya penawar agar hubungan tak sekadar berjalan di atas mesin otomatis. Melangkah ke dekade pertama hingga tahun ke-15, medan laga berubah bentuk menjadi jauh lebih riuh dan meletihkan. Tumpukan tanggung jawab berada di puncaknya saat amil menduduki amanah kepemimpinan atau posisi strategis di lembaga, sementara anak-anak beranjak besar menyerap habis sisa energi harian. Hilangnya waktu romantis bersama akibat himpitan program audit, penyaluran zakat, dan agenda operasional membuat ruang kalbu rentan disusupi kelelahan jiwa, bahkan membuka celah bagi godaan dari luar yang berbisik lebih nyaring. Di masa sulit ini, humor, kelembutan, dan kemampuan untuk tertawa bersama menjadi penyelamat yang sangat berharga. Namun, angka tahun yang panjang dan rekam jejak pengabdian di keamilan ternyata tak pernah menjadi jaminan mutlak bagi sebuah bahtera untuk selamat sampai ke seberang. Di sekitar kita, fakta pahit itu terbentang nyata. Ada pasangan amil yang telah membersamai hari-hari hingga delapan belas tahun lamanya, menenun ribuan kenangan perjuangan dakwah zakat, namun tetap terantuk pada karang tajam yang membuat ikatan itu akhirnya karam juga. Sebab sewaktu waktu mengetuk pintu tahun ke-20 dan seterusnya, krisis paruh baya hadir membawa gelombang pertanyaan tentang pencapaian diri, cita-cita masa muda yang tertunda, serta perubahan fisik yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat yang sama, anak-anak remaja tumbuh dengan jalan pikirannya sendiri yang kritis, menuntut pola pengasuhan dan kesabaran yang sama sekali baru. Tanpa tenggang rasa, percakapan sehari-hari di usia matang ini sangat mudah berubah menjadi hambar dan dingin, sekadar penyampaian pesan formal tanpa kehangatan. Padahal, setelah melewati dua dekade bersama dalam riak-gelombang perjuangan keamilan, pasangan seharusnya telah menempa pondasi yang begitu kokoh dari ribuan cobaan yang telah lalu. Namun, perjalanan hidup belum usai, sebab tahun ke-20 dan seterusnya justru membawa kebersamaan ini memasuki babak baru: ujian kebersamaan di usia matang. Tantangan yang hadir di fase ini sungguh nyata dan berlipat ganda. Sindrom empty nest atau sarang kosong menelusup pelan saat anak-anak dewasa mulai mandiri, mengejar karier, atau membangun bahtera rumah tangganya sendiri. Sunyi kembali singgah di kamar-kamar yang dulu riuh, memaksa dua manusia ini untuk kembali belajar saling menatap, merajut ulang rasa, dan mencari makna serta cara baru dalam merawat kedekatan di tengah kesepian yang mengintai. Tanggung jawab pun meluas seiring bertambahnya peran baru sebagai mertua dan hadirnya keluarga besar dari anak-anak yang telah menikah. Di saat yang sama, tubuh amil yang dulu lincah menembus pelosok medan penyaluran zakat kini mulai mengirim penanda penuaan—fisik tak lagi sebugar dulu, penyakit mulai menyapa, dan kesehatan yang menurun menuntut penyesuaian diri yang bijak serta keikhlasan ekstra untuk saling merawat satu sama lain. Ketika tahun perak kian mantap membingkai ingatan di usia 25, 30 tahun, hingga seterusnya, ujian pernikahan telah menjelma menjadi pendampingan yang paling murni di hari tua. Sepi akan menjadi sangat pekat jika kedua hati tidak saling menguatkan. Rasulullah SAW memberikan petunjuk agung tentang bagaimana sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling lembut dan berkasih sayang kepada keluarganya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya), dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi) Di titik ini, kebersamaan seorang amil bukan lagi soal jabatan lembaga atau gejolak rasa masa muda, melainkan tentang menjaga sisa napas kebaikan, merawat kehangatan yang telah dirajut puluhan tahun, serta saling mendoakan agar ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah) yang dijanjikan Allah SWT terus bertunas hingga ke surga-Nya: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21) Pada akhirnya, tidak ada angka tahun pernikahan seorang amil yang benar-benar kebal dari gelombang dan krisis. Namun, di atas semua etape yang melelahkan itu, pernikahan amil yang selamat selalu menemukan jalannya untuk bertahan: lewat kehangatan komunikasi yang tak pernah padam, saling pengertian yang makin dalam, dan komitmen yang teguh untuk terus menggenggam jemari yang sama hingga akhir garisan. [ ].
31/07/2026 | Nana Sudiana (Wakil Ketua IV BAZNAS Jabar)
Atomic Amil
Atomic Amil
Serial Ke 12 Madrasah Amil Jabar "Jika Anda ingin mencapai keunggulan dalam hal-hal besar, Anda harus mengembangkannya dalam hal-hal kecil. Keunggulan bukanlah tindakan sesaat, melainkan kebiasaan." — Kendra Kinnison Menjadi amil di era modern bukan lagi sekadar perkara menjaga niat di dalam dada, melainkan bagaimana mengejawantahkan niat luhur tersebut dalam benteng rutinitas yang presisi. Kita sering kali mendambakan lompatan besar—sebuah transformasi lembaga yang masif, digitalisasi yang memukau, atau lonjakan angka perolehan dana yang fantastis dalam semalam. Namun, realita di meja kerja berbicara lain. Kebesaran gerakan zakat tidak pernah dilahirkan oleh letupan-letupan momentum sesaat, melainkan oleh partikel-partikel kecil yang sunyi: atom-atom kebiasaan harian yang kita rawat dengan konsisten. Di sinilah istilah "Atomic Amil" menemukan urgensi tertingginya. Mengadopsi ruh dari konsep "Atomic Habits", dimana kata "atomic" membawa dua pesan mendalam yang sangat mendesak bagi jiwa setiap pejuang filantropi. Pertama, ia adalah bagian dari sistem yang lebih besar. Seorang amil bukanlah individu terisolasi; setiap sapaan ramah pada mustahik, setiap ketepatan waktu menginput data muzaki, hingga setiap menit yang dihabiskan untuk membalas pesan layanan, adalah atom-atom mikro yang menyusun molekul kredibilitas lembaga. Ketika satu atom kebiasaan ini cacat atau malas bergerak, seluruh sistem kepercayaan umat taruhannya. Kedua, ia menyimpan kekuatan energi atom yang luar biasa. Perubahan sekecil satu persen kebaikan yang kita lakukan secara konsisten di balik kubikel kantor mungkin terasa sepele dan tak kasat mata hari ini. Namun, jika ia digulirkan tanpa putus, dampaknya akan berlipat ganda secara eksponensial dalam jangka panjang, mampu meruntuhkan dinding kemiskinan dan mengubah lanskap peradaban umat. Urgensi menuliskan dan menghidupkan jiwa "Atomic Amil" ini adalah untuk menyelamatkan para pejuang zakat dari penyakit burnout dan keputusasaan. Di tengah belantara tekanan target, riuhnya ekspektasi publik, dan kelelahan emosional saat menatap langsung gurat duka kemiskinan, amil membutuhkan jangkar kewarasan. Menuliskan Atomic Amil adalah sebuah upaya mengembalikan fokus kita pada apa yang sanggup kita kendalikan: membenahi identitas diri, merapikan rutinitas kerja, dan menjaga keikhlasan dari hal-hal paling mikro. Menjadi Amil Lahir Batin Artikel ini lahir bukan untuk mendikte teori-teori manajemen yang melangit, melainkan menjadi teman curhat yang renyah dan dalam. Ia mengetuk kesadaran kita bahwa jalan dakwah zakat ini harus ditempuh dengan langkah-langkah kecil yang berirama. Kita tidak sedang diajak untuk mengubah dunia dalam kedipan mata, melainkan diajak untuk setia pada proses perbaikan harian. Sebab pada akhirnya, tumpukan atom-atom kebaikan kecil itulah yang akan kita bawa pulang menghadap langit sebagai warisan kemaslahatan yang paripurna. Saat kesadaran menjadi amil ini kian matang, kita mulai memahami bahwa menjadi amil itu seakan meniti jembatan tipis di atas riak dunia, di mana ujungnya harus berlabuh di langit. Kita kerap melangkah tergesa dengan seragam rapi dan senyum yang dipaksakan, menyembunyikan lelah yang menggelayut di kelopak mata setelah seharian mengejar angka perolehan. Publik melihat kita sebagai benteng kesalehan, manusia-manusia suci pemegang kunci amanah umat, namun di balik kubikel kantor, kita hanyalah hamba yang ringkih, yang tak jarang menangis sendirian karena dihantam badai kecemasan. Di ruang-ruang sunyi itu, emosi kita sering terkuras habis, bukan karena benci pada tugas, melainkan karena begitu dalamnya empati yang tumpah saat menatap langsung gurat kemiskinan di wajah para mustahik. Namun, perubahan luar biasa di jalan dakwah zakat ini tidak pernah datang dari transformasi besar dalam semalam, melainkan dari akumulasi kebiasaan-kebiasaan kecil yang konsisten, yang kita rawat setiap hari. Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) acapkali menjelma menjadi belantara ekspektasi yang riuh. Kita terjebak dalam pusaran untuk memuaskan semua orang: pimpinan yang menuntut laporan presisi, muzaki yang meminta sanjungan dan kepastian, hingga publik yang tak pernah lelah melempar kritik tajam di jagat maya. Padahal, jika kita mau belajar memeluk kedamaian, ada batas tegas yang harus disadari—apa yang sanggup kita kendalikan dan apa yang berada di luar jangkauan jemari kita. Ketika kritik di media sosial datang bertubi-tubi, reaktivitas yang meledak-ledak hanya akan mengotori ketulusan. Menghadapinya dengan keanggunan data, ketenangan sikap, dan tutur kata yang santun adalah cara terbaik untuk tetap waras di tengah badai, sembari perlahan mengikis sindrom haus pujian yang kerap menjadi racun bagi keikhlasan. Belajar dari Kaca Spion Hidup kita kadang perlu juga kaca spion bak sepeda motor atau mobil. Dimana dengan adanya kaca spion, kita tak perlu menoleh untuk melihat ke belakang kita. Dari kaca spion, kita tahu bagaimana kondisi di samping dan belakang kita. Begitu pula hidup kita saat ini. Sesekali, kita perlu evaluasi atau muhasabah. Merenungi dan mengkaji ulang masa lalu yang sudah kita tinggalkan. Namun, melihat kembali masa lalu, tak boleh terlalu lama. Karena, justru berbahaya bagi laju kita saat ingin menuju masa depan. Spion dalam hidup perlu, walau dalam batas secukupnya dan tak terjebak di dalamnya. Hari ini, bagi para amil yang telah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun menjadi amil, tetap perlu juga melihat ke belakang. Melihat kilas balik perjalanan gerakan dakwah zakat ini dari awal. Mulai Dua Puluh, Sepuluh atau Lima tahun sebelum ini. Situasi dimana hal-hal kecil dan mungkin juga "lucu" atau bahkan "aneh" sempat muncul atau berkembang di dunia zakat. Di fase awal, makna sejati dari kata atomic atau atomik itu teruji. Sesuatu yang bermakna sangat kecil, sepele, atau merupakan unit terkecil dari sebuah sistem yang lebih besar. Kebiasaan kecil seorang amil sesungguhnya bertindak layaknya atom yang menyusun sebuah molekul besar bagi kelembagaan; perubahan kecil inilah yang menjadi bahan penyusun dari hasil yang luar biasa. Sebuah transformasi digital yang megah, misalnya, tidak akan pernah tegak jika amilnya masih abai pada hal-hal kecil; menunda-nunda menginput data muzaki atau membiarkan ruang obrolan layanan pelanggan berdebu tanpa balasan. Kedisiplinan kecil untuk mengevaluasi respons layanan dalam hitungan menit setiap pagi adalah ketukan-ketukan palu yang perlahan meruntuhkan kemalasan, membentuk budaya kerja baru yang tangkas dan responsif. Meski ukurannya tampak sangat kecil dan remeh, jika kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten oleh setiap lini amil, dampaknya akan berlipat ganda dan memberikan perubahan drastis dalam jangka panjang. Ia menyimpan kekuatan luar biasa, persis seperti energi atom yang tak kasat mata namun mampu menggerakkan peradaban. Kebaikan satu persen yang kita pupuk dan jaga setiap hari di meja kerja kita, pada akhirnya akan melahirkan lompatan dampak yang eksponensial bagi umat. Sebab, mengelola dana umat adalah perkara mengetuk pintu hati, bukan sekadar memindahkan angka-angka di layar komputer. Sungguh sebuah pemandangan yang menyedihkan jika amil datang menemui muzaki dengan mentalitas layaknya penagih pajak yang dingin, atau sebaliknya, mendekati mustahik dengan tatapan merendahkan seolah sedang membagikan remah-remah belas kasihan. Komunikasi kultural yang berempati, yang memadukan kehangatan silaturahmi tradisional dengan kecanggihan digital, selalu berhasil mengikat loyalitas muzaki lebih kuat dari trik pemasaran manapun. Begitu pula saat melakukan penilaian di lapangan; mendengar dengan utuh jeritan hati para mustahik adalah cara kita memuliakan martabat manusia, memastikan bahwa zakat hadir untuk mengangkat derajat, bukan meruntuhkan harga diri. Namun, ujian terberat seorang amil bukanlah letihnya raga, melainkan bagaimana ia memperlakukan uang yang mengalir di depannya. Berada di lingkaran yang mengelola miliaran rupiah dana umat adalah sebuah ilusi yang memabukkan jika benteng psikologis kita rapuh. Di sinilah pentingnya menanamkan mentalitas merasa cukup, sebuah rasa kaya di dalam jiwa agar kita tidak pernah silau oleh angka-angka yang lewat. Transparansi tidak boleh hanya menjadi pajangan di lembar SOP atau sekadar demi menggugurkan kewajiban audit kepatuhan syariah. Mental "menjadi amil yang amanah dan profesional" harus menjadi kebutuhan spiritual yang radikal bagi setiap amil. Sebuah kesadaran bersama harus tumbuh dengan kuat pada diri setiap amil, bahwa setiap rupiah yang kita kelola adalah saksi yang akan berbicara di hadapan keadilan Tuhan. Sayangnya, tak jarang energi kita habis bukan karena melayani umat, melainkan karena bertarung melawan ego di meja kerja sendiri. Ada tembok tebal yang kerap memisahkan antara divisi pencarian dana yang merasa menjadi pahlawan perolehan, dengan divisi penyaluran yang merasa paling tahu beban penderitaan di lapangan. Ada kalanya, konflik internal ini sering diperparah oleh jurang komunikasi antara amil senior yang mengagungkan cara-cara lama dengan amil muda yang mendambakan pembaruan cepat. Terkadang, perlu juga dibuat kebijakan "percobaan pekerjaan" yang mendorong setiap amil harus "memerankan" jenis pekerjaan tertentu agar ia paham dan tak menilai rendah pekerjaan amil lainnya. Bertukar peran ini misalnya seorang staf pencarian (pengumpulan) dana ditugaskan menjadi bagian program penyaluran atau pendistribusian dengan tugas memikul beras dan berjalan menyusuri pelosok desa untuk membagikan zakat. Hal ini terbukti ampuh dalam rangka meluluhkan keangkuhan sektoral itu. Ketika mereka merasakan sendiri beratnya menyalurkan bantuan hingga ke pelosok-pelosok desa nun jauh untuk dijangkau, barulah mereka sadar bahwa kita semua adalah satu tubuh, bagian-bagian kecil dari satu sistem yang tak boleh saling mematikan. Dunia bergerak dengan kecepatan yang mencemaskan, dan tantangan kemiskinan berkembang menjadi labirin yang kian rumit. Amil yang menolak menjadi pembelajar dan memilih meringkuk di zona nyaman rutinitas administrasi akan segera usang ditelan zaman. Kita dituntut untuk memiliki cara pandang yang terus bertumbuh, tidak segan mempelajari ilmu data, psikologi modern, hingga dinamika ekonomi global demi melahirkan program pemberdayaan yang presisi. Kehadiran ruang-ruang kaderisasi dan sertifikasi kompetensi nasional adalah ikhtiar kita bersama untuk menaikkan kelas profesi ini, mengubah persepsi publik dari sekadar pekerja sosial sukarela menjadi para profesional filantropi yang disegani. Pada akhirnya, kepemimpinan di dalam gerakan ini bukanlah tentang megahnya ruang direksi atau tingginya anak tangga jabatan. Kepemimpinan seorang amil adalah kepemimpinan yang melayani, sebuah teladan yang bisa dipancarkan bahkan dari kubikel staf yang paling pojok. Saat badai bencana nasional datang melanda, ketepatan kita untuk mengesampingkan ego warna bendera organisasi dan melebur dalam satu komando kemanusiaan adalah bukti nyata bahwa orkestrasi empati jauh lebih kuat daripada sekat-sekat birokrasi. Kita memimpin dengan memberikan pundak untuk memikul beban mereka yang tertindas. Menjadi amil adalah sebuah pilihan sadar, sebuah jalan hidup terhormat, dan sama sekali bukan tempat pelarian bagi mereka yang kalah dalam persaingan duniawi. Ini adalah ruang di mana visi ukhrawi dan prestasi duniawi berkelindan dengan anggun. Setiap tetes keringat yang jatuh, setiap tindakan mikro yang kita rutinkan, dan setiap sistem yang kita rapikan dengan konsisten adalah atom-atom kebaikan yang sedang kita susun sebagai warisan kemaslahatan bagi masa depan umat. Dan, ketika kelak perjalanan karir ini harus ditutup, kita ingin melangkah pergi dengan senyum tenang, meninggalkan sebuah warisan yang kokoh, integritas yang tak ternoda, dan jejak manfaat yang abadi sebagai tabungan kepulangan yang paripurna. Semoga. *). Ditulis di Cijagra, menjelang rembang petang, Kamis, 25 Juni 2026
26/06/2026 | Nana Sudiana (Wakil Ketua IV BAZNAS Jabar)