OPZ dan Ilusi Lini Masa
03/08/2026 | Penulis: Nana Sudiana (Wakil Ketua IV BAZNAS Jabar)
Dokumentasi BAZNAS Jabar
Ada ironi yang teramat pedih dalam panggung siasat modern: "ketika argumen keberhasilan tak sanggup menjadi fakta, orang-orang bergegas merias ilusi menjadi bahan berita".
Kita pernah menyaksikannya di Portugal pada Januari 2021. André Ventura melontarkan cemoohan pada Marisa Matias hanya karena seulas lipstik merah menyala. Riasan itu dituding tak profesional dan tak pantas di ruang politik.
Ventura percaya bahwa dengan mengerdilkan tampilan, ia telah memenangkan perdebatan. Namun, sejarah punya cara memantulkan kembali kekerdilan itu.
Ribuan perempuan bergerak membalas. Tagar #VermelhoEmBelem (Merah di Belém) membakar jagat siber. Kata "Belém" merujuk pada Belém Palace (Istana Kepresidenan Portugal) yang menjadi tujuan pencalonan presiden tersebut.
Foto-foto berlatar gincu merah membanjiri lini masa, seolah perlawanan menuju istana kepresidenan itu telah menang mutlak di panggung digital.
Namun, layar telepon pintar kerap menyajikan ilusi yang melampaui kenyataan.
Ketika bilik suara dibuka, Marisa Matias hanya mengantongi kurang dari empat persen suara. Sebaliknya, Ventura justru melesat hingga hampir dua belas persen.
Dunia digital memenangkan percakapan, tetapi dunia nyata memilih cerita yang sama sekali berbeda. Algoritma membuat ribuan orang merasa sedang mengubah dunia, padahal yang berubah hanyalah warna foto profil dan angka tagar.
Simbol perlawanan itu perlahan terkooptasi menjadi tren pasif, bahkan dilahap kapitalisme menjadi komoditas dagangan kosmetik. Di titik itulah, cermin retak dari Lisbon diam-diam terpantul ke wajah Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) hari ini.
Jebakan Lini Masa
Di tengah riuk gelombang digitalisasi, OPZ kerap berdiri di persimpangan yang mirip. Ada godaan besar untuk menjadikan lembaga sekadar panggung "lipstik merah" — mengejar kecantikan visual, estetika unggahan, dan jutaan jangkauan di media sosial.
Kadang, sejumlah OPZ suka "kebablasan" mengejar predikat paling hebat, paling populer, paling bisa dijadikan contoh, dan bahkan paling gaul di panggung publik.
Beberapa di antaranya terlihat memaksakan pimpinannya untuk tampil menonjol. Mulai dari sering wara-wiri menghadiri konferensi di luar negeri, memamerkan kehebatan akademik seperti jenjang studi doktoral, penelitian jurnal terindeks Scopus, hingga aktivitas kelas S3.
Ada lagi yang lebih _absurd_: menayangkan segudang jadwal aktivitas harian pimpinannya secara maraton—mulai dari mengisi acara, seminar, diskusi, hingga pelatihan di lini masa.
Panggung personal branding sang pemimpin mendadak lebih bising daripada wacana transformasi hidup para mustahik yang diurusnya.
Tak berhenti di sana, sejumlah OPZ pun gagal paham memaknai keberhasilan pemberdayaan mustahik.
Energi dan sumber daya sejumlah OPZ sering kali dihabiskan saat agenda launching atau peresmian acara. Mereka menghadirkan banyak tokoh dan pejabat, mengundang puluhan media, hingga menggandeng influencer agar mengabarkan program yang hari itu diresmikan.
Namun, mereka kerap lupa menyiapkan pendamping program yang baik, kurikulum pendampingan yang efektif dan sesuai kebutuhan, serta roadmap yang detail dan presisi dengan dukungan sumber daya serta dana yang memadai.
Banyak OPZ mengejar kemegahan saat peresmian, namun entah bagaimana nasibnya setelah itu.
Dan konyolnya, mereka terkejut serta merasa gagal ketika akhirnya melakukan evaluasi di akhir periode. Mengapa programnya tidak berhasil?
Fenomena ini seakan mengonfirmasi pesan mendalam dari seorang aktivis senior: "Barang siapa yang gagal merencanakan, sesungguhnya ia sedang merencanakan untuk gagal."
Feed Instagram yang rapi, video emosional dengan lagu tren, serta klaim angka berkilau sering dianggap bukti sah keberhasilan. Lembaga zakat perlahan terancam bergeser dari penggerak perubahan riil menjadi sekadar produsen konten dan panggung personalitas.
Kemiskinan dan ketimpangan sosial berisiko ditangkap bukan sebagai krisis yang harus dibongkar hingga ke akarnya, melainkan sebagai bahan mentah demi meraup likes, shares, dan popularitas personal.
Padahal, sebagaimana kemiskinan yang tidak bisa dikenyangkan oleh riuhnya tagar, transformasi hidup seorang mustahik tidak pernah selesai oleh indahnya infografis ataupun menterengnya gelar pimpinan.
Ada jurang menganga antara kecepatan jempol membagikan konten dengan kelambatan proses pemberdayaan masyarakat di lapangan.
Mengubah seorang yang terbelenggu utang menjadi mandiri, mendampingi petani miskin menembus tengkulak, atau membina anak-anak stunting di pelosok membutuhkan napas panjang. Itu adalah kerja-kerja sunyi yang kerap tak seksi untuk dijadikan video lima belas detik.
Ketika OPZ terjebak dalam kompetisi penampilan dan ego kepemimpinan, ia sedang membiarkan dirinya ditelan oleh logika kapitalisme digital yang dangkal: tempat di mana impresi dianggap lebih penting daripada substansi.
Tentu, ini bukan panggilan untuk menolak media sosial dan bersembunyi di dalam gua. Media sosial tetaplah ruang publik modern yang harus diisi untuk menyampaikan syiar dan akuntabilitas.
Namun, media sosial seharusnya berfungsi sebagai jendela yang jujur, bukan benteng yang menyembunyikan kerapuhan realitas di balik citra pimpinannya.
Keberanian OPZ yang sejati—sebagaimana keberanian memilih "lipstik merah" dalam arti sesungguhnya—bukanlah keberanian untuk terlihat paling keren di layar gawai.
Keberanian sejati adalah ketangguhan para amil untuk tetap memilih jalan yang sulit: memegang teguh prinsip transparansi, menembus wilayah tak tersentuh sinyal, serta mengukur keberhasilan dari tegaknya kemandirian dan martabat manusia.
Pada akhirnya, sejarah pengentasan kemiskinan tidak akan pernah diubah oleh warna kemasan, deretan sertifikat, atau mahirnya bersolek di lini masa.
Sejarah senantiasa diubah oleh orang-orang yang menolak sekadar ikut arus. Mereka bersedia menanggung risiko dan peluh di dunia nyata demi membela pikiran serta nilai yang diyakini.
OPZ harus berani menentukan pilihan perannya hari ini: apakah ingin terus terbuai menjadi pemenang dalam riuhnya narasi maya yang rapuh, atau memilih menjadi penjelajah sunyi yang jejak langkahnya benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan di garis depan realitas. [ ].
Artikel Lainnya
menelan ludah dan batasan puasa : prespektif islam yang jelas
Atomic Amil
Kisah Umar bin Khattab : Kepemimpinan dan Kebijaksanaan yang Mengagumkan
Amil dan Ujian Rumah Tangga
Mengenal 12 rakaat shalat sunnah rawatib : kunci kebahagiaan spiritual
Nama Paman Nabi Muhammad : Abu Thalib dan Perannya dalam Dakwah
Amal jariyah artinya dan contoh amalan yang tidak terputus
Doa Nabi Muhammad : Kumpulan Doa-Doa Mustajab yang bisa Diamalkan

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Jawa Barat.
Lihat Daftar Rekening →